Belajar Maaf, Belajar Menjadi Manusia

freed

Meminta maaf atas suatu kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain adalah tindakan yang baik dan harus. Misalnya, kita menghina atau memfitnah orang lain, atau telah berbohong, maka kita berdosa di mata Allah. Dan agar dosa kepada sesama bani Adam itu bisa diampuni, syaratnya adalah meminta ampun kepada Allah sekaligus meminta maaf kepada pihak yang kita rugikan atau kita zalimi dengan dusta, penghinaan dan fitnah yang kita lakukan, mengakui kesalahan, dan berbuat sesuatu untuk memperbaiki kesalahan kita.  

Maaf adalah lebih mendalam ketimbang ampun. Allah memiliki nama al-Afuww (Mahapemaaf) dan al-Ghaffar (Mahapengampun). Ampunan dari Allah, menurut Imam al-Ghazali, adalah ampunan atas dosa, namun dosa kita masih ada. Dosa tersebut ditutupi oleh Allah di dunia dan akhirat, sehingga Allah tidak menyiksa seseorang dengan dosa tersebut. Namun memaafkan berarti menghapus dosa, seolah-olah seseorang tidak pernah melakukan kesalahan. Dosa telah dihapus tanpa ada bekas. Allah tak lagi menyebut-nyebut dosanya ketika Dia sudah memaafkan, namun ketika Dia mengampuni, kadang dosanya masih disebut atau ditampakkan. Demikian penjelasan Imam al-Ghazali.

Karenanya hamba diharapkan memiliki sifat pemaaf ini. Ada sedikit perbedaan dalam konteks ini. Memaafkan umumnya ketika kita dalam posisi yang tidak salah. Sebaliknya, meminta maaf umumnya ketika kita dalam posisi yang salah. Bagi sebagian orang, memberi maaf lebih sulit ketimbang meminta maaf, dan bagi sebagian lainnya meminta maaf lebih sulit ketimbang memberi maaf. Itu tergantung pada keadaan ruhani (haal) seseorang.

Dalam kasus pertama, orang boleh jadi sulit memaafkan apabila kondisi hatinya terlanjur dipenuhi oleh prasangka buruk dan kebencian. Dalam kasus ekstrim, kebencian menimbulkan dendam, sehingga sifat kasih-sayang dan pemaaf menjadi hilang sama sekali. Kadang orang lupa, hanya karena kita tidak bersalah, itu bukan berarti kita pasti lebih baik daripada orang lain. Sesungguhnya, memberi maaf juga membutuhkan unsur kasih sayang dan sekaligus pengakuan bahwa “aku memaafkan orang lain” karena “aku juga pasti perlu minta maaf kepada orang lain.”

Dalam kasus kedua, orang boleh jadi sulit meminta maaf karena arogan sehingga gengsi atau malu jika harus mengakui kesalahan. Jadinya meminta maaf, yang seharusnya menjadi pintu kebebasan batin dan penyambung relasi, justru menjadi sesuatu yang membebani batin dan tirai yang menyekat. Tetapi nafsu selalu pandai mencari cara untuk membuat kita meminta maaf tanpa mengakui kesalahan dan secara halus menyalahkan pihak lain. Dalam kondisi ini, permintaan maaf adalah basa-basi untuk menyelamatkan diri dari situasi yang lebih buruk tanpa mengakui kesalahan diri dan justru menisbahkan kesalahan pada orang lain. Secara umum meminta maaf secara semu ini biasanya diembel-embeli dengan “tetapi …” atau diberi syarat atau alasan yang menyalahkan pihak lain. Permintaan maafnya secara tersirat membuat orang yang salah ini menjadi orang yang benar, seakan-akan ia berkata “Saya minta maaf karena baru sadar bahwa kamu yang salah.”

Memberi maaf dan meminta maaf dengan landasan nafsu dan kepentingan ego atau kepentingan pribadi ini pada hakikatnya berarti seseorang tidak memberi maaf atau tidak meminta maaf. Jika ini yang terjadi maka seseorang sebenarnya terus menzalimi dirinya sendiri karena masih membawa kebencian dan kesombongan dalam diri sendiri, dua hal yang sesungguhnya amat membebani dan menyiksa jiwa kita sebagai hamba.

Tidak meminta maaf dan tidak memaafkan dengan tulus membuat kita terpenjara masa lalu, terjebak pada luka dan amarah dan kebencian lama, yang menghalangi kebebasan kita untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan. Tidak memberi maaf membuat kita dikuasai oleh orang lain, menciptakan imajinasi bahwa mereka akan selalu melukai diri kita setiap hari, sehingga sampai pada titik su’udzon yang berkepanjangan. Su’udzon yang berkepanjangan akan melahirkan permusuhan dan kebencian.

Di sisi sebaliknya, tidak meminta maaf dengan tulus membuat kita terjebak dalam ilusi bahwa kita selalu benar, tak mungkin salah, sebab orang lain yang selalu salah memahami diri kita. Jika kondisi seperti ini berlangsung dalam jangka panjang, maka seseorang akan semakin takabur, dan kesombongan akan membuat seseorang lupa bahwa dirinya sangat mungkin tidak lebih baik daripada orang lain, lupa bahwa dirinya sangat mungkin salah. Akhirnya muncul sikap mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain, dan selalu menuntut orang lain mengikuti apa pendapat dan kemauan kita.

Tidak memaafkan dan tidak meminta maaf secara benar dan tulus akan melukai diri kita sendiri. Banyak kesalahan, kekeliruan, kejadian yang pahit dan perih, mungkin sudah terjadi dan tak bisa ditarik lagi. Segala luka dan duka dan kekeliruan itu baru bisa kita lepaskan dengan cara memaafkan atau meminta maaf dengan benar dan tulus. Allah meminta kita memaafkan dan/atau meminta maaf untuk menunjukkan bahwa sebagai manusia kita tidak akan luput dari dosa kepada Allah dan tidak luput dari melakukan kesalahan kepada orang lain, entah itu dengan ucapan atau perbuatan. Pada gilirannya, maaf dan memaafkan akan membuahkan rasa rendah hati (tawadhu’), dan juga cinta dan kasih sayang antar sesama. Jika ingin memahami cinta, kita harus belajar memahami maaf.

Karena itu, minta maaf atau memaafkan harus dilatih agar setiap orang mampu merasakan dan menghayati tajalli dari Asma al-Afuww. Lantaran kita sebagai hamba akan selalu kurang dan berpotensi keliru, maka kita juga perlu berlatih rendah hati agar bisa mengejawantahkan Asma al-Afuww ini dengan selalu memohon petunjuk kepada Yang Mahamemaafkan, supaya Dia memberi kita pemahaman dan kekuatan untuk memberi dan meminta maaf dengan cara yang benar sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan kehendak nafsu, ego, atau ambisi dan kepentingan syahwat kita, apapun bentuk syahwat itu.

“Dear Lord, please show me everything I need to understand about forgiveness and surrender” – E. Gilbert

   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s