Racun Ibadah

manuk

Ketika seseorang bersungguh-sungguh melakukan jihad akbar melawan hawa nafsunya sendiri, maka Allah akan membukakan pintu-pintu menuju jalan-Nya. Seperti dikatakan dalam Qur’an, “barangsiapa bersungguh-sungguh berjihad [melawan hawa nafsu/kemaksiyatan] di jalan Kami, maka Kami akan membimbing mereka di jalan Kami.” Seandainya Allah telah berkenan membukakan jalan-Nya, maka dada hamba akan menjadi lapang, disinari cahaya petunjuk, dan ia mendapatkan lebih banyak kekuatan untuk melawan hawa nafsunya — kekuatan ini bukan miliknya sendiri, tetapi merupakan anugerah dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya, mustahil seseorang bisa bebas dari belenggu nafsunya sendiri. Kesadaran ini penting agar seseorang tidak mengklaim bahwa dirinya sendiri mampu mendapat kekuatan tanpa pertolongannya, sebab jika ia mengklaim demikian, maka ia menyangkal ungkapan “la haula wala quwwata illa billahi.” Klaim merasa punya dan merasa mampu secara swadaya Ini adalah salah satu jebakan halus yang dipasang oleh hawa nafsu. 

Tetapi jika seseorang berhasil melampauinya, maka ia akan mampu “berpuasa” dalam arti menahan nafsu buruknya: ia bisa mengendalikan nafsu makan, minum, seksual, nafsu dalam pendengaran, nafsu dalam penglihatan, nafsu dalam ucapan, nafsu dalam langkah kakinya dan nafsu dalam gerak tangannya, Maka, misalnya, ia mungkin akan lebih banyak diam kecuali bicara yang perlu; atau ia mungkin berbicara seperti biasa, bicara yang remeh-temeh dan bercanda seperti biasa, guna menyembunyikan keadaan sesungguhnya yang ada dalam dirinya, yang sedang bersusah-payah mengekang hawa nafsu sembari memohon pertolongannya — upaya penyembunyian ini adalah salah satu cara untuk menjaga agar nafsu tidak mengklaim dirinya sedang melakukan hal terpuji yang bisa menerbitkan perasaan ujub atau riya.

Pada akhirnya, seandainya berhasil, maka ia akan merasakan kelapangan, harapannya bertambah, dan merasakan aroma kedekatan dari Tuhannya. Kelapangan dada ini (insyirah al-Sadr ) adalah keadaan di mana cahaya Ilahi tak terhalang oleh hawa-nafsu dan karena itu cahaya itu bekerja pada level maksimum. Tetapi di sini ada bahaya: seseorang dalam situas ini berada dalam keadaan di antara dilindungi dari dosa dan ditinggalkan oleh Allah. Mengapa bisa begitu?

Sebab saat hawa-nafsu ikut melihat dan merasakan cahaya di dadanya dan saat dada dan hatinya menjadi lapang, maka hawa-nafsu diam-diam membebaskan diri dari situasi terkekang dengan cara menyusup menikmati kegembiraan ruhani ini. Jadinya kegembiraan ruhaninya bercampur dengan hawa-nafsunya — haq dan bathil sekali lagi jumbuh. Jika seseorang tidak waspada, atau tidak diberitahu oleh guru yang berpengalaman, maka kesenangan nafsu pelan-pelan akan menyelimuti, menyebabkan hamba merasa senang dengan kesenangan. Pada saat inilah nafsu akan membajak kegembiraan ruhani ini, dan menyeret  perhatian hamba pada kebahagiaan ruhani ini, dan pelan-pelan melupakan tujuan dari perjuangan sesungguhnya, yakni berjalan “menuju” ke Allah. Dan jika ini terjadi, ia pada hakikatnya melupakan Allah, atau “memanfaatkan” Allah demi tujuan mendapatkan kegembiraan-kegembiraan spiritual ini. Seseorang yang ingat Allah, maka Allah bersamanya, dan jika lupa Allah, maka ia berarti “ditinggalkan” oleh Allah. Ini adalah contoh  godaan atau maksiat dalam ibadah — seperti kisah Jurayj, yang mengabaikan panggilan ibunya saat Jurayj sedang shalat. Nafsunya berhasil membujuknya untuk memilih kesenangannya sendiri dalam beribadah ketimbang memenuhi kewajiban lain yang lebih berhak diutamakan.

Efek yang paling berbahaya barangkali adalah ketika kesenangan atau kegembiraan ruhani menyebabkan seseorang diam-diam merasa mampu dengan usaha sendiri untuk beramal dan mengalahkan hawa nafsunya. Banyak yang jatuh dalam perangkap ini terutama bagi mereka yang tidak punya guru yang berpengalaman menempuh jalan Tuhan dan berpengalaman dalam mendeteksi dan mengatasi tipuan-tipuan halus dari hawa nafsu. Karena itu al-Wasithi pernah berujar: “dalam kesenangan beribadah terdapat racun yang mematikan bagi para salikin.” Dalam hal ini orang perlu mempelajari dan mendalami serta merenungkan hadis dari kanjeng Rasul yang intinya seseorang tidak akan selamat karena amalnya, kecuali dengan rahmat-Nya. Tetapi agar mendapat rahmat-Nya ia harus mematuhi perintah-Nya, yang adalah bagian dari kehendak-Nya. Sebab, bagaimana mungkin orang akan mendapat rahmat-Nya jika ia tidak berusaha patuh pada-Nya.

Tindakan mematuhi perintah Allah melalui amal-ibadah adalah sebuah latihan agar senantiasa bergantung kepada-Nya. Allah memang tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya,  karena hambalah yang membutuhkan Allah. Melalui tindakan ibadah sehari-hari, dan latihan tazkiyatun nafs,  seorang hamba melatih diri untuk merasa butuh kepada Allah. Melakukan ibadah dan amal kebajikan adalah upaya untuk mengenal (ma’rifat) Allah sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita pikirkan. Jika kebutuhan orang akan Allah adalah sama besarnya dengan kebutuhan orang akan udara untuk hidup, sehingga pada titik tak ada pilihan selain bergantung kepada Allah (sebagaimana kita tak punya pilihan harus memperoleh udara untuk hidup), maka terciptakah kondisi mudhtarr (tidak punya pilihan –   Q. S. 27: 62),  dalam arti membutuhkan Allah secara absolut.  Maka melalui sarana (wasilah) kebutuhan semacam inilah, yaitu kebutuhan yang dimunculkan oleh amal ibadah dan tazkiyatun nafs,  Allah dengan Rahmat-Nya akan membukakan saluran-saluran rahasia kepada hamba untuk menghindari tipu daya dan racun dalam ibadah.

Wa Allahu a’lam bi-shawab

Advertisements

2 thoughts on “Racun Ibadah

    1. bener mas. namun saya ndak pernah berani memastikan orang yg update status adalah riya karena urusan hati hanya penulis status dan Allah yang tahu, sebagaimana saya ndak pernah memastikan bahwa setiap orang yang berbagi ilmu pengetahuan apapun sebagai riya’. Sepanjang ada tulisan yang berguna, itu baik bagi saya. Soal riya atau tidak, apakah ada keinginan dilike atau tidak, itu biarlah Allaah yang menilai dan menghakiminya. Saya lebih suka berprasangka baik. 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s