Perempuan

hijab_by_silencedmckay-d5ovhww

Muhyiddin Ibn ‘Arabi pernah mengatakan bahwa, berdasarkan hadis-hadis yang beliau kaji, Allah Yang Maha Pengasih menciptakan pada diri perempuan sebuah “rahim,”  sebutan  yang berasal dari Nama-Nya sendiri (ar-Rahim).

Pada rahimlah kita saksikan miniatur kekuasaan daya cipta Allah. Allah berfirman dalam hadis Qudsi “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, dan Aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia agar Aku bisa dikenal. Menurut Muhyiddin Ibn ‘Arabi, “Aku” Ilahiah adalah “ayah”, dan “perbendaharaan tersembunyi” adalah “ibu”; Cinta adalah yang menggerakkan perbendaharaan tersembunyi itu menjadi maujud, yakni “anak.” Rahim, dalam pengertian jasmaniah wujud, adalah “wadah” yang melahirkan diri kita sebagai manusia (bashar). Namun, dari sisi spiritualnya, hakikat kelahiran adalah ketika “diri ruhani” kita dilahirkan. Perlambang hakikat keruhanian murni adalah Isa as. Dan Isa lahir dari rahim yang masih suci, Perawan Maryam. Ini adalah misteri besar tentang kelahiran ruhani yang sesungguhnya dialami oleh setiap manusia. Karena itu, dari perspektif ruhani, setiap saat, terlepas dari jenis kelamin lahiriah,  kita mempunyai kesempatan untuk menjadi “Ibu” – yakni, yang memanifestasikan entitas-entitas permanen (a’yan tsabith) yang tersimpan dalam “Perbendaharaan Tersembunyi.” Karenanya, secara simbolik, Nabi Adam adalah ayah sekaligus ibu; Adam “melahirkan” Hawa, dan menjadi ayah yang membuahi Hawa untuk melahirkan anak-anak melalui rahimnya.

Fakta bahwa nama “rahim” sama dengan salah satu asma al-husna, “ar-Rahim” adalah isyarat yang halus secara spiritual. Syekh Abdul Karim al-Jilli, salah satu ulama sufi agung pengikut Syekh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi, mengatakan bahwa nama ar-Rahim adalah lebih khusus ketimbang nama ar-Rahman. Nama ar-Rahman lingkupnya lebih luas atau umum, karena Allah meliputi segala sesuatu tanpa kecuali. Oleh sebab itu, menurut Syekh al-Jilli, karunia yang berasal dari Rahmat-Nya meliputi hal-hal yang tidak menyenangkan pula – semisal, marahnya orang tua kepada anak yang sangat nakal dengan memberinya hukuman, dengan tujuan agar anak tidak nakal lagi, adalah wujud dari kasih-sayang. Hukuman biasanya tidak menyenangkan dan pahit. Jadi meski penghukuman adalah bentuk rahmat, namun terkandung niqmah (keadaan yang tidak enak). Jadi, menurut Syekh al-Jilli, Rahman mencakup ni’mah (kenikmatan) dan juga niqmah (bencana). Sedangkan ar-Rahim hanya mencakup ni’mah, tidak mengandung niqmah. Karena dalam Rahim hanya murni kenikmatan maka manifestasinya ada di akhirat, kenikmatan surgawi, yang tak menandung bencana atau rasa sakit. Syekh Abdul Karim al-Jilli mengatakan, “Sesungguhnya ar-Rahim tidak tampak jelas secara sempurna kecuali di kampung akhirat, karena akhirat lebih luas daripada dunia. Setiap kesenangan di dunia juga mengandung duka, vice versa, sebab ia berada dalam naungan Rahmat-Nya. Sedangkan kesenangan di akhirat (yang dilambangkan dalam kebahagiaan surgawi) adalah murni kenikmatan tanpa campuran duka.”

Menurut Syekh al-Jilli, Allah mengapresiasi kanjeng Nabi Muhammad dalam nama ar-Rahim-Nya, seperti dalam firman-Nya: “Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi sayang kepada orang-orang mukmin” (Q.S. at-Taubah: 9).  Dengan kata lain kanjeng Nabi sangat berharap bahwa umatnya akan beriman, yakni mengimani bahwa segala sesuatu, baik itu hal yang menyenangkan atau tidak, adalah mengandung Rahmat-Nya yang tampak maupun yang tersembunyi dalam berbagai fenomena dunia;  jika manusia bisa “melihat dan merasakan” Rahman-Nya dalam segala sesuatu maka ia akan bisa menyaksikan dan memahami kualitas ar-Rahim dan mewujudkan kualitas kerahiman ini dalam perilakunya yang selalu didasari oleh cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia pada umumnya,  dan dalam hubungan antara pria dan wanita dalam pernikahan pada khususnya. Hubungan kasih-sayang dalam pernikahan ini lebih spesifik dan mengandung misteri yang lebih halus dalam proses pendewasaan dan pematangan ruhani orang-orang yang berjalan di jalan Allah.

Ketika Adam terjatuh dari surga, tercerabut dari Keindahan Ilahi, Adam kehilangan ketentramannya. Adam mencari hakikat dirinya. Allah Yang Maha Pengasih lantas menyingkapkan Jamal-Nya (Keindahan-Nya) secara spesifik ke dalam lokus manifestasi yang tiada lain adalah Hawa, sang perempuan.  Adam menemukan apa-apa yang dicarinya dalam diri Hawa. Tetapi Adam dan Hawa tak cukup hanya saling memandang untuk kembali ke hakikat dirinya. Mereka harus bersatu; dan pernikahan adalah lambang dari persatuan ini. Kesatuan dan Pertemuan (wushul) dimaksudkan agar keseluruhan mencapai bagian, dan vice versa.

Karena itu dalam ajaran Islam pada umumnya, dan Tasawuf pada khususnya, pernikahan adalah ibadah.  Setiap tindakan ibadah memiliki kelezatan atau kenikmatan, dan setiap kenikmatan itu adalah tanda-tanda dari kenikmatan surgawi. Jadi kenikmatan “pertemuan” lebih besar ketimbang kenikmatan “melihat.” Dalam bahasa awam, kenikmatan bersetubuh lebih besar ketimbang kenikmatan melihat persetubuhan. Jadinya, hubungan seksual yang suci dalam ikatan pernikahan yang sah adalah perlambang fana. Sehingga,  dalam satu pengertian pernikahan adalah menyatukan kembali sisi spiritual dari kualitas rahim yang melekat dalam diri setiap manusia, baik pria dan wanita.

Jadi, agar kita lahir sebagai manusia yang memiliki kualitas keruhanian yang baik, kita harus menghormati kesucian rahim, sebab hanya rahim yang suci sajalah yang melahirkan manusa ruhani yang paripurna, yang dilambangkan oleh Maryam yang melahirkan Isa as. Setiap lelaki dan perempuan yang mengikuti aturan Ilahi, khususnya dalam menjaga kehormatan rahim, akan mendapat kesempatan untuk dilahirkan kembali secara ruhaniah.

Tak heran, Rasulullah, Sahabat dan para Wali Allah begitu menghormati perempuan, mengingat peran agung yang dimainkan oleh kaum hawa ini. Rasulullah bersabda “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bersikap paling baik terhadap istrinya, dan akulah yang terbaik dalam bersikap terhadap istri.” Para Kekasih Allah akan selalu menghormati istri, sebab saksi ikatan pernikahan kita adalah Allah dan Rasul-Nya, karena kita membaca kalimat syahadah dalam ijab kabul.

Oleh karena itu, barang siapa yang tak menghormati rahim, ia tak akan sampai (wushul) kepada Allah – zina, perselingkuhan, pengkhianatan janji suci pernikahan, adalah tindakan yang menodai kesucian “rahim”: dan tak heran, zina, adalah seburuk-buruk jalan, karena membawa kita terlempar dari naungan ar-Rahim dan terputus dari Rahmat-Nya. Tindakan yang tidak menghormati rahim, baik itu dilakukan oleh pria maupun wanita, akan menyebabkan seseorang akan menciptakan hijab yang bersumber dari nafsu-syahwat. Dan kita tahu bahwa dalam ajaran Islam, nafsu-syahwat yang dituruti tanpa mengikuti aturan ilahi akan disebut sebagai tindakan maksiat kepada Allah dan kepada diri sendiri. Ini seolah-olah seseorang sama saja sengaja “memutuskan rahim” dari Allah untuk dirinya sendiri. Ibn Arabi meriwayatkan hadis Qudsi yang menyebutkan bahwa “Maka, barangsiapa ‘memutuskan’ rahim, niscaya Aku akan memutuskan [dia dari-Ku], dan barang siapa “menyatukan” rahim (silaturahim), Aku akan menyatukan diri-Ku dengannya.” Atau dapat dijelaskan dengan kalimat seperti berikut:  Dari sisi syariat, silaturahim adalah menyambung persaudaraan. Dalam persaudaraan mengandung kasih-sayang dan cinta antar sesama manusia. Dari sisi spiritual, menyambung silaturahim adalah menyerap kembali kualitas ar-Rahim dan mengejawantahkannya secara sukarela (ridha) dalam kerangka aturan yang menuruti kehendak-Nya agar Allah-pun ridha kepada hamba-Nya.

Karenanya, barang siapa mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, ia harus membuktikannya dengan, salah satunya, menghormati lokus tajalli Kerahiman-Nya dan memanifestasikan kualitas kerahiman ini dalam perilaku kesehariannya. Dalam pengertian yang lebih sempit, penghormatan manusia kepada rahim perempuan adalah melalui pernikahan yang sesuai dengan tata-cara yang telah ditentukan Allah melalui risalah Rasul-Nya. Dalam konteks ini ikatan perkawinan adalah sebuah perjanjian suci yang diikat dengan kesaksian orang dan juga dengan kalimat syahadat,  di mana  manusia diharapkan menyatukan seluruh kualitas diri yang terpecah.Jika hamba mau ridha dengan ketentuan syariat-Nya, termasuk dalam urusan ini, maka hamba akan lebih besar kemungkinannya untuk kembali masuk ke dalam surga (manifestasi Rahimiyyah) dengan ridha dan diridhai (Q.S. al-Fajr: 28-30).

Dalam cinta sesama insan, tak boleh ada pengkhianatan, apalagi dalam Cinta kepada Allah. Dalam konteks penghormatan kepada perempuan, ini berarti menghormati kualitas “Kerahiman” Allah yang ada pada diri manusia pada umumnya, dan secara khusus menghormati “rahim perempuan,” sehingga tak patut bagi seorang hamba  Allah untuk mengeksploitasi, menyakiti, atau menghina perempuan.

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan

  1. maaf Mbah, menurut Kulo rahim dalam arti “kandungan” itu bahasa serapan dari Arab, rohmun. artinya kandungan. sedang Rohim dari sifat Allah berarti maha penyayang. contohnya dalam kata “silaturahim”. itu yang benar (menyambung kasih sayang). bukan ” silaturahmi” (menyambung peranakan). itu pendapat Kulo yang culun Niki Mbah.. suwun..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s