Cinta Layla dan Majnun

maxresdefault

Jika engkau tak berhenti menyebut namaku, Qays
Darahmu akan tumpah membasahi bumi
Qays, Aku khawatir tak kan sempat lagi kupandang wajahmu
sebelum ajalku tiba

Sepanjang sejarah, karya-karya sastra besar telah membuka cakrawala yang luas tentang kehidupan manusia. Sejak masa Yunani Kuno, atau bahkan mungkin jauh sebelumnya, kisah-kisah dongeng, legenda, mitos, novel, drama, esai, atau puisi telah mempesona imajinasi begitu banyak manusia, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Melalui itu semua kita bisa mengenal diri kita sendiri dan kehidupan tempat di mana kita tinggal.

Karya-karya sastra besar datang seperti badai membuka pintu-pintu persepsi dan kesadaran kita, dan dengan kekuatan transformatifnya mampu mengguncangkan arsitektur keyakinan kita, mengubah cara pandang hidup kita, menguak problem psikologis dan sosial manusia, mengguncangkan kemapanan, dan bahkan memicu revolusi atau perang. Seringkali setelah kita membaca karya-karya sastra, kita merasa menjadi sosok yang berbeda, seperti dikatakan kritikus sastra Steiner, “We are not the same when we put down the work as we were when we took it up.” Kekuatan transformatif inilah yang membuat banyak karya sastra tak pernah terkikis oleh arus waktu, menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya, dan membuatnya menjadi karya “abadi.”

Kita mencoba memahami dan menghayati nilai-nilai yang kita ambil dari bacaan sastra kita, menyusunnya, memaknainya, menafsirkannya, dan mencoba memanfaatkannya untuk merekonstruksi keyakinan kita yang sempat terguncang, atau bahkan bisa sampai membongkar dan membentuk sebuah keyakinan baru yang sama sekali berbeda dengan keyakinan yang pernah kita pegang.

Membaca karya sastra religius, utamanya yang berhubungan dengan Tasawuf, bagi sebagian orang, termasuk saya, bukan sekedar memaknai dan menafsirkannya. Bagi mereka yang sudah terlanjut terjun ke dunia tarekat dan mempraktikkannya, kitab yang ditulis oleh Sufi, atau Wali Allah, bukan kitab “biasa.” Adalah benar pada awalnya kita mencoba menghayati, memaknai dan menafsirkan apa-apa yang kita baca. Namun apapun upaya intelektual dan zawq yang kita lakukan melalui bacaan, tidak akan pernah sampai ke level pemaknaan seperti yang dipahami oleh penulisnya. Karenanya, dalam tradisi tasawuf, ada upaya tambahan selain membaca dan mengerahkan daya daya intelektual dan renungan hati untuk memahami makna yang “terkubur” dalam ribuan kata-kata indah.

Kitab-kitab tasawuf, termasuk sastra tasawuf yang ditulis sufi dan Wali Allah yang sejati, dari perspektif ini, tak lain adalah kesusastraan “esoterik.” Ia tidak hanya berhubungan dengan makna batin, makna simbol, mitos atau keindahan, tetapi mengandung “kegaiban” karena ia lahir dari wilayah gaib. Tulisan sufi dan Wali, adalah atsar (jejak) dari seorang mukmin – dan seperti sabda Nabi, “atsarun mu’minin barakatun” (jejak orang mukmin itu berkah). Karenanya, para pengamal tasawuf pada umumnya, dan tarekat pada khususnya, membaca kitab tasawuf, apapun bentuknya, tidak sekedar untuk mendapatkan ilmu, untuk menikmati pesona keindahannya, tetapi juga untuk mengharapkan barakah, sesuatu manfaat gaib yang mengalir tanpa disadari oleh akal dan bahkan tanpa diketahui kesadaran kita.

Karenanya, bagi pengamal tasawuf, tulisan esoterik bukan sesuatu yang hal yang terputus dari penulisnya. Sufi dan Wali Allah tak pernah “mati” atau tak pernah putus hubungannya dengan dunia kini. Jejak-jejak mereka menjadi semacam “pintu gerbang” untuk menemui mereka. Atau, dengan menggunakan frase yang ekstrim, kita tetap bisa bertemu dengan mereka sekarang di dunia ini. Ini kedengarannya aneh bagi orang yang tak pernah menghayati tasawuf, tetapi bukan barang aneh bagi orang yang menghayati tasawuf bukan hanya pada tataran teori atau konseptual.

Barakah dari jejak Wali hanya bisa direngkuh setelah kita memenuhi syarat tertentu. Sebagian dari syarat itu membutuhkan banyak pengorbanan dan kesusahan, dan juga mungkin menggelikan dari sudut pandang akal-rasional. Berkah ruhani tidak akan muncul dari pemahaman kognitif atas kata-kata indah di kitab sastra esoterik tanpa laku ruhani. Juga tidak muncul dari kepuasan mental saat menikmati keindahan dan kelembutan syair-syair dan prosa-prosa cinta Tuhan tanpa laku ruhani. Kita harus melampaui kata-kata itu. Berkah itu datang justru ketika kita menafikkan sudut pandang kita, pemahaman kita, atas suatu teks sufi, menjalani tazkiyatun nafs, dan membiarkan “penulisnya langsung mengalirkan barakah itu ke dalam lubuk hati kita.” Ini tentu terasa tidak mengenakkan bagi yang terbiasa menggunakan akal-pikirannya.

Tetapi, sayangnya, dan untungnya, barakah itu memang seperti “Layla” dalam kisah masyhur Layla-Majnun. Kita kadang harus menjadi “Majnun” untuk mendapatkannya. Layla, Layla, apa yang bisa kita tangkap dari Layla selain kegelapan dan keheningan? Dan apa yang bisa dilakukan oleh Majnun untuk memahaminya? Bagi mereka yang tidak pernah mengalami “majnun” ia tidak akan  memahami “layla.” Barang siapa yang tidak mengalami “kegilaan ruhani” ia tidak akan bisa merasakan “barakah malam yang gaib.”  Layla adalah Tuhan Yang Maha Ghaib dan Indah, dan majnun adalah hamba yang maha rendah dan, dalam pengertian tertentu, tidak ada. Jadi, masihkah kita butuh akal untuk memahami Layla? Ya dan Tidak. Yang jelas kita butuh membangkitkan majnun dalam diri kita, sebab “akal sehat” itu membatasi, dan majnun itu membongkar batasan-batasan. Ketika kita memahami dengan akal, berarti kita membatasi sesuatu dalam pengetahuan akal kita;  sesuatu yang kita pahami berarti ada dalam batasan pengetahuan kita. Tetapi, sesuatu yang kita ketahui menjadi tak lagi gaib bagi kita. Apakah Yang Maha Gaib bisa dibatasi? Ah, kembali lagi, kita butuh “Majnun.”

Sesungguhnya ada banyak hal dari “atsar” berkah sufi ini yang bisa kita dapatkan ketika kita membaca kitab-kitab esoteris menurut kaidah yang telah ditentukan di jalan ruhani. Tetapi itu bukan untuk dijelaskan di sini, karena nanti butuh satu buku tebal, dan belum tentu pula penjelasan akan memuaskan dan belum tentu pula benar.

Waktu terus berlalu,  menua usia
jiwaku yang terbakar rindu
Belum sembuh jua

Bila kami ditakdirkan berjumpa
Akan kugandeng lengannya
Berjalan bertelanjang kaki menuju kesunyian
Sambil memanjatkan doa-doa pujian pada Allah
Ya Raab, telah Kau jadikan Layla
Angan dan harapanku
Hiburlah diriku dengan cahaya matanya

Adakah malam bisa menyatukan diriku denganmu, Layla?
Sampaikan salamku kepada Layla, wahai angin malam
Katakan, aku akan tetap menunggu
Hingga ajal datang menjelang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s