Be your self, know My self

Self-Esteem

Orang kadang merasa dirinya tahu apa yang mesti dikejar, merasa bahwa “menjadi diri sendiri,” yang didengungkan dengan slogan indah “be yourself,” adalah cara untuk menjadi diri yang otentik. Tetapi apa yang dimaksud dengan “diri yang otentik?” Mengatakan “be yourself” berarti secara implisit mengatakan bahwa kita sudah tahu siapa jati diri kita, apa tujuan kita dan apa manfaat dari diri sebagaimana yang kita pikirkan. Tetapi benarkah kita sudah kenal diri? Psikologi modern, yang tak menjangkau ‘ruh,’ memiliki bermacam-macam gagasan tentang apa itu “diri.” Tetapi, sekali lagi, apakah gagasan kita tentang diri kita sendiri adalah benar-benar mewakili jati diri atau hakikat diri kita yang sesungguhnya? Atau, mungkinkah pada mulanya kita memikirkan lalu kemudian menemukan gagasan tentang diri kita berdasar pengalaman empiris dan analisa rasional, kemudian gagasan tentang diri itu kita jadikan sebagai acuan untuk memahami diri kita sendiri?

Dalam psikologi tasawuf ada ungkapan “anta al-mautu qobla al-maut” — matilah kamu sebelum kamu mati. Dalam ajaran tasawuf,  “diri” sebagaimana yang kita pikirkan bukanlah “diri” yang sejati. Sebab dalam ajaran agama Islam, “diri” manusia adalah ciptaan yang hakikatnya adalah “tajalli” atau “pancaran” dari Diri  Yang Menciptakan. Dalam satu pengertian, “diri” kita berbeda dengan Diri yang menciptakan, namun dalam pengertian lain diri kita adalah bersumber dari Diri al-Khaliq. Sebab tanpa campur-tangan-Nya, yakni tanpa karunia dari sifat “Maha Hidup”, maka diri kita adalah musnah, tidak ada. Karena diri kita sepenuhnya bergantung pada Diri-Nya, atau Dzat-Nya, melalui wasilah tajalli dari Asma dan Sifat-Nya, maka satu-satunya cara untuk mengetahui “diri sebagaimana adanya,” yaitu “diri sebagaimana yang diketahui Diri Yang Menciptakan (yaitu Allah azza wa jalla) adalah dengan membongkar ilusi kedirian kita dan berusaha mendapatkan karunia pengetahuan tentang diri kita dari perspektif sumber azali diri kita.

Allah meniupkan nafs ar-Rahman saat menciptakan insan. Karenanya kita “ada” juga lantaran Rahman-Nya: ”Aku adalah khazanah tersembunyi, dan Aku rindu dikenal, maka Aku ciptakan dunia (seisinya).” “Kerinduan” ilahiah ini, dilihat dari perspektif makhluk, adalah manifestasi dari Cinta-Nya kepada manusia, yang dikatakan menyimpan “rahasia [Diri]-Nya.” Maka kita hadir adalah karena Cinta-Nya dan Kemurahan dan Kasih-Sayang-Nya. Jadinya, ruh-ruh azali kita adalah salah satu manifestasi atau pengejawantahan dari rasa syukur atas Cinta-Nya. Maka diri kita, lahir dan batin, sesungguhnya bertasbih dan memuji-Nya. Maka “Alhamdulillah” adalah pujian pribadi kita, pujian dari seluruh tubuh kita. Lahir dan batin kita memuji-Nya: tangan yang bisa bergerak memuji-Nya karena Dia-lah kita bisa bergerak, lidah kita memuji-Nya, karena lantaran Dia-lah lidah kita bisa merasa dan berkata — ringkasnya, hidup kita adalah pujian kepada-Nya karena Dialah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang memberi kita daya-daya hidup — la haula wala quwwata illa billahi aliyyil adhim. “La haula” ini harus diyakini pasti dan dirasakan, bukan hanya di lisan, tetapi juga dalam keseluruhan eksistensi kita (dalam pemikiran, perbuatan, dalam keyakinan, dalam hati)  agar terbuka “siapa diri kita sebenarnya.”

Akan tetapi bagaimana bisa mengaku tiada daya dan upaya jika belum mengenal Yang Menggerakkan jasmani dan ruhani kita (ruh). Karena tidak tahu, sebagian dari kita menganggap kita punya kuasa sepenuhnya atas diri kita, dan ini adalah syirik tersembunyi.  Sebab orang lantas akan “merasa memiliki” hal-hal yang diperolehnya dalam ikhtiar dunia.

Jika tak mau berusaha memahami bahwa diri ini pancaran atau tajalli dari Tuhan, maka bangkitlah hawa nafsu menguasai manusia yang ujungnya akan merusak dan membahayakan diri sendiri. Kita pelan-pelan berbuat dzalim pada diri sendiri, dan jika tak segera disadari dan bertaubat, maka zalim pada diri sendiri akan meluas menjadi zalim kepada orang lain. Dalam konteks ini, jika kita sadar, perlu segera kembali ke penyaksian “la ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minaddhalimin.” Perlu pengakuan sepenuhnya bahwa kita zalim pada diri sendiri karena lupa bahwa tujuan kita adalah mengakui bahwa tiada “ilah” atau tujuan penyembahan dan pengabdian (ibadah) selain kepada “Engkau” (Allah). Zalimnya kita pada diri kita sendiri adalah karena kita beribadah demi sesuatu yang selain Allah. Ini seolah-olah ibadah dan Allah kita peralat demi tujuan hawa nafsu kita. Inilah zalim pada diri sendiri, yang secara metaforis adalah “zalim kepada Allah” lantaran kita lebih suka kepada diri yang menuruti hawa nafsu ketimbang diri yang menuruti kehendak Diri-Nya.

Dan ada kata “subhanaka.” Mahasuci Engkau, sebab untuk kembali ke jalan yang dikehendaki-Nya, yaitu jalan yang diridhai-Nya, kita harus  menegaskan kembali kesucian Allah dari segala prasangka kita, atau kita harus membersihkan diri kita dari segala persangkaan dan ilusi tentang-Nya. Kita zalim pada diri sendiri karena kita sering beribadah demi sesuatu yang bukan Tuhan, atau demi sesuatu yang kita bayangkan sebagai Tuhan, atau beribadah demi Tuhan sebagaimana yang kita bayangkan, imajinasikan, khayalkan dan pikirkan, yang seringkali tiada lain adalah proyeksi dari ego, ambisi pribadi yang didasari oleh syahwat dan hawa-nafsu.” Beribadah dengan model ini adalah kurang tepat. Imam ali berkata,

“Hakikat Dzat Tuhan tidak dapat dipahami melainkan melalui kashaf (pemandangan syuhudi), dan juga tidak dapat dipahami melainkan dengan jalan penyucian, yaitu kita mensucikan Dzat Tuhan dari segala sesuatu yang pernah kita bayangkan dan lihat.  Manusia harus mengetahui bahwa Tuhan bukanlah yang ada dalam angan-angan dan khayalannya. Apa yang ada di dalam angan-angan dan khayalan (imajinasi) seorang manusia, bukanlah Tuhan, akan tetapi itu adalah makhluk-Nya (yang diciptakan-Nya). Ketika seseorang dapat terbebas dari alam khayal dan angan-angan, dan masuk ke dalam ilmu dan Alam batin yang murni, dimana di dalamnya sama sekali tak ada angan-agan dan khayal, maka dalam kondisi itu, seseorang dapat melihat hakikat. Karena angan-angan dan khayalan (imajinasi) merupakan penghalang batin guna menggapai hakikat.”

Orang yang zalim pada diri sendiri akan kehilangan rasa malu, dan begitu rasa malu pudar atau menghilang, maka manusia akan berbuat sesukanya. Demikianlah, karena enggan beribadah demi mengenal Allah sebagaimana adanya, maka nafsu berkuasa mendompleng ibadah kita. Syekh Athailah mengatakan “hawa nafsu dalam ibadah lebih sulit diketahui.” Jika nafsu menguasai kita secara halus, maka rasa malu makin hilang, dan terbitlah sombong. Jika sudah demikian, seperti disebutkan dalam salah satu kecemasan Sayyidina Ali, “ada ahli ibadah yang mewarisi kesombongan iblis.” Kecemasan-kecemasan yang diungkapkan Sayyidina Ali adalah peringatan bahwa siapapun bisa terjebak dalam tipu-muslihat iblis dan bala tentaranya jika tak berpegang teguh pada Tali Allah sebagaimana dijulurkan kepada kita melalui kanjeng Rasulullah SAW dan para pewarisnya yang sah kamil mukammil. Ini adalah sebagian dari makna “orang yang tak memiliki mursyid (yang kamil mukammil dan mewarisi silsilah ajaran secara sah dan tanpa putus sampai ke kanjeng Nabi) maka gurunya adalah setan,” yakni manusia akan tertipu oleh hawa nafsunya sendiri yang mengikuti bujukan setan.

Kalau mau menarik slogan “be yourself” ke dalam perspektif ruhani, maka itu berarti ‘kenalilah dirimu yang sebenarnya agar engkau menjadi diri yang sesungguhnya,’ dengan maksud merealisasikan “barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.” Mengenali diri adalah menelisik ke dalam relung-relung batin kita, ke dalam apa-apa yang ada di dalam diri kita, dan membedakan kebaikan dan keburukan dalam diri kita, mengenali apa itu akal kita, nafs kita, ruh kita, sifat kita, rasa dan perasaan kita, dan seterusnya sampai Allah sendiri yang berkenan membukakan rahasia “siapa aku” atau siapa diriku yang sebenarnya.

Where shall I find God? In myself. That is the true Mystical Doctrine. But then I myself must be in a state for Him to come and dwell in me. This is the whole aim of the Mystical Life; and all Mystical Rules in all times and countries have been laid down for putting the soul into such a state ~

F. Nightingale .

 

Advertisements

3 thoughts on “Be your self, know My self

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s