Di Bawah Bayang Izrail

solitude

Sejak kita dilahirkan, Malaikat Izrail seakan berjalan mendekati kita, kadang dengan perlahan kadang dengan cepat. Namun ia sesungguhnya tak pernah mengagetkanmu, sebab sang maut mengajak kita berbicara setiap hari — melalui daun-daun layu yang engkau sapu setiap hari, melalui kisah-kisah kematian dari berbagai penjuru, melalui kekagetanmu pada kematian orang-orang yang engkau sayangi, melalui sengal nafasmu ketika usia menua, atau sekadar melalui masa sakit pening, flu dan demammu yang semakin sering berkunjung dan tak lekas pergi, melalui beberapa helai uban yang mendadak menyelinap di kepalamu, melalui keriput yang mulai muncul di sela-sela jemarimu, melalui doa-doa yang dilantunkan dari bibir orang-orang yang kehilangan orang-orang yang tersayang. Dan engkau tahu maut bisa selalu menjemputmu tanpa permisi, saat engkau sedang duduk, berbaring, bepergian, melalui sakit, melalui apa saja yang bisa membawamu menyelesaikan detak jantung terakhirmu.

Namun banyak orang tidak percaya pada kehidupan setelah mati – dan kepada orang-orang semacam itu, “nasihat kematian” tidaklah banyak artinya. Kita tidak bisa memaksa orang untuk percaya pada hal-hal yang tidak mereka yakini, pada hal-hal yang bukan bagian dari “iman” mereka. Jika kita memaksakan nasihat agama tentang kematian kepada mereka, maka boleh jadi akan ditertawakan dan dihina. Karena itu tidak mengherankan orang lebih asik dengan dunia ketimbang memikirkan nasib kehidupan kelak, sebab mereka tidak percaya pada adanya akhirat, pada hari perhitungan; karenanya bagi mereka, sesudah mati  mereka tidak akan mendapat pembalasan di akhirat; mereka tidak percaya bahwa kelak mereka akan menuai buah dari perkataan dan perbuatan mereka di dunia ini. Segala pembicaraan tentang agama, surga dan neraka, hanya menjadi olok-olok. Dan itu sering kita jumpai terutama di internet, entah itu di social-media atau di blog atau di forum-forum dan group-group chatting.

Karena semakin hari semakin banyak yang tak percaya, atau kurang peduli, pada kehidupan di akhirat di mana Tuhan akan meminta pertanggungjawaban, maka tampaknya memang kita harus mulai membiasakan diri membaca atau mendengar betapa banyak nasihat agama, ayat-ayat dalam kitab suci, petuah dari orang-orang arif dari berbagai macam agama, hanya menjadi bahan guyonan, menjadi bahan hinaan atau bahkan menjadi modal untuk mencari uang dan kekuasaan. Bahkan ada yang tak segan menggunakan dusta dan fitnah atas nama agama demi memaksakan gagasan sendiri dan menista gagasan dan keyakinan orang lain. Mereka menggunakan ayat-ayat Tuhan untuk memberhalakan diri sendiri, menyembah keinginan, pikiran dan kemauannya sendiri. Jika tidak dituruti, mereka berlaku bak Tuhan: melaknat dan merasa berhak menghancurkan orang-orang yang tidak sepakat dengan penafsiran mereka sendiri, tidak setuju dengan hawa-nafsu dan syahwat kekuasaan dan syahwat yang ingin dianggap selalu benar. Mereka tidak ada rasa hormat sedikitpun pada iman dan penafsiran orang lain.

Memegang keyakinan atau iman memang semakin berat, seperti memegang bara api di tangan, kata kanjeng Nabi. Apalagi ketika sebagian dari orang yang beragama itu justru menunjukkan perilaku yang barbar, penuh kekerasan dan caci-maki, mau menang sendiri, dan juga tidak menghormati keyakinan orang yang tidak sejalan dengannya. Ini menjadi ironi: kematian dan keyakinan pada kehidupan akhirat seharusnya menjadi alat pengendali nafsu kita, namun dalam praktiknya banyak yang justru memperalat gagasan mereka tentang kematian dan kehidupan akhirat sebagai justifikasi untuk berbuat semaunya.

Barangkali memang semakin banyak yang enggan dan menutup mata dan telinga pada nasihat-nasihat  ruhani dan nurani yang semakin dikucilkan di sudut hati. Sesungguhnya ajaran tentang kematian dan akhirat adalah ajaran untuk menelisik ke dalam jiwa, sebab dikatakan bahwa sesudah mati, orang beriman akan ditanya dan dihisab kelakuannya: apakah selama ini menuruti hawa nafsunya sendiri atau menuruti perintah dan ajaran Tuhan yang disampaikan melalui utusan-Nya? Tetapi, sekali lagi, bahkan bagi orang beriman, kematian tak lagi banyak berarti. Mereka terus memupuk dan merawat hawa nafsu yang selalu menyuruh mencintai dunia yang tak akan dibawa mati dan selalu mengajak pada sikap egois dan menuruti keinginan sendiri.

Entah berapa lama lagi kita akan terus berdusta dan menyebar fitnah demi memuaskan hawa nafsu, berapa lama lagi kita akan merawat kebencian dan keserakahan akan harta dan kuasa dengan cara membegal ajaran agama? Apakah kita ingin dijemput maut sambil membawa hawa nafsu — mati dalam keadaan berdusta, mati dalam keadaan membawa dosa fitnah, mati membawa membenci, mati membawa keserakahan, mati membawa caci-maki penuh dengki?

“Dan kematian makin akrab,” kata penyair Subagyo Sastrowardoyo. Yang dulu hadir, akan tiada, yang dulu yang sepi, menjadi ramai, dan yang ramai akan kembali menjadi sepi.  Akan banyak hal yang hilang, seperti hilangnya keriuhan suara khas pasar burung Ngasem di Yogyakarta yang kini sudah beralih fungsi. Demikian pula dengan dinding facebook, atau Twitter  atau Blog  ini: suatu saat nanti dindingnya perlahan-lahan akan semakin sunyi dari tulisan, foto, dan komentar – dan dilupakan orang.

The old ones fade and are no more,
And no one calls their names.

When the end of my path is reached,
Will you sing my name in prayer?

When I am gone
Who will call my name?

When I have given up my last breath,
Who will sing my name in prayer?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s