Mendaki Gunung

melawoe

Hai para gadis di kota jangan jatuh cinta dengan para pendaki. Mereka selalu berpikir kecantikan abadi cuma ada di gunung | Hai para pendaki, jangan jatuh cinta dengan para gadis di kota. Mereka selalu berubah pikiran seperti cuaca di gunung.”

Saat memasuki usia kepala empat aku mencoba menguji stamina dan kaki: apakah masih kuat mendaki. Maka, sesudah tak pernah naik gunung sejak 2005, pada 2013 dan kemudian terakhir 2015 kemarin aku mendaki lagi. Tetap dengan gaya lama: membawa bekal seadanya, memakai sandal japit, membawa matras dan sleeping bag. Tentu saja dengan sedikit aksesoris tambahan mengingat usia: minuman jamu anti masuk angin.

Pendakian di era socmed memang jauh berbeda. Pendakian kemarin itu membuatku merasa situasi pendakian tak lagi nyaman bagiku. Tentu ini penilaian subjektif.

Pertama kali mendaki adalah tahun 1989 di Gunung Merbabu. Pada masa lalu, di beberapa gunung, seperti Merapi dan Selamet, kita terkadang bisa menjumpai celeng dan macan kecil — juga, entah apes entah beruntung, bisa bertemu makhluk halus atau orang-orang aneh yang hendak bertapa, seperti di Lawu. Dalam satu kesempatan aku pernah bertemu dengan orang yang tingginya mungkin lebih dari 2 meter, karena aku berbicara kepadanya dengan kepala tengadah lebih dari 45 derajat. Juga pernah berjumpa pendaki berkaki satu, atau bertemu rombongan pendaki yang memanggul kayu gelondongan besar yang dibungkus kain mori/kafan. Masa-masa itu puncak-puncak gunung tak seberisik pada saat aku mendaki tahun 2013/2015 lalu. Pohon di hutan-hutannya masih besar-besar — beberapa pohon butuh lima atau enam orang yang merentangkan tangan untuk memeluk mengelilingi batangnya.

Dulu aku suka naik sendiri, bukan di akhir pekan yang biasanya ramai, agar bisa menikmati keheningan yang ganjil ketika berjalan perlahan pada malam hari menembus hutan gunung. Entah mengapa tidak ada rasa takut bertemu makhluk halus atau hewan — meski pernah dua kali hampir mati, yang pertama terjerumus ke jurang karena bernafsu memetik edelweis yang bagus di lereng jurang terjal, dan kedua tersambar badai besar di puncak.

Tetapi dalam pendakian kemarin aku tidak menemui hal-hal yang dulu pernah kujumpai: entah suasananya, kesunyiannya, dan kemistisannya, meski puncak gunung selalu sama dan selalu membuat hatiku tentram. Dan karenanya aku nekat pindah dari kota besar, demi mendapatkan rumah di kaki gunung. Di sinilah aku sekarang, rumah kecil di kaki merapi.

Kini barangkali jika mendaki, kita akan lebih banyak bertemu anak-anak muda, dengan gadget berkamera atau kamera DSLR (digital sing larang regane) dan berselfi-selfi atau membawa potongan kertas berisi tulisan kepada kawan atau kepada pacar untuk dipotret dan dikabarkan via Instagram. Bahkan kemarin aku tidak menjumpai makhluk halus — meski kawanku melihat cahaya aneh, entah dari mana datangnya, menyambar kepalaku pada tengah malam gelap, Yang kujumpai adalah makhluk halus jenis lain: cewek-cewek unyu dan cantik berkulit lembut berpakaian keren warna-warni — benar sekali, jika dahulu makhluk halusnya membuat hati berdebar tegang dan membuat kita banyak berdoa sambil lari terbirit-birit menjauh, kini makhluk halusnya membuat kami, para lelaki, terutama mungkin bagi jomblowan, hatinya berdebar tidak karuan dan ingin lari mendekat.

Yah, barangkali aku terlahir terlalu cepat, sudah terbatas kemampuan untuk mendaki dan menemui makhluk-makhluk halus yang unyu dan ayu-ayu itu. Sekarang, musim sudah berganti, dan zaman sudah berubah…

Bagaimanapun aku selalu mencintai gunung, juga alam pada umumnya. Alam pegunungan yang indah dan tenang ini sesungguhnya banyak mengajarkan rahasia bagaimana manusia membangun dirinya menjadi sosok yang berpribadi mulia: tenang, hening dan tegar seperti gunung, ramah seperti kicau burung, bergelora seperti ombak laut dan badai, sabar seperti tanah bumi, penuh kesadaran dan istiqamah seperti matahari, lembut seperti cahaya bulan, dan dermawan seperti udara. Bahkan meski saat berada di puncak gunung engkau seakan berada di atas awan, namun pada saat yang sama engkau akan merasa begitu kecil ketika memandang hingga ke batas cakrawala.

It is not the mountain we conquer, but ourselves 

Advertisements

2 thoughts on “Mendaki Gunung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s