Musyawarah Iblis

boredevil

 

Iblis, maharaja setan dan penguasa kegelapan itu, duduk masygul di singgasananya yang megah. Ia bertopang dagu dengan tangan kirinya, bersandar di singgasana yang terbuat dari permata bening yang dihiasi dengan manik-manik intan berwarna-wani. Tiap-tiap warnanya bersinar tajam seakan mengancam. Di atas singgasananya adalah kubah biru langit yang berasap merah. Di tengahnya terdapat bola sebesar matahari. Di bawahnya adalah air yang bening seperti kristal yang berasap, tapi bukan karena mendidih. Singgasana Iblis melayang di atasnya. Sementara tangan kanannya memegang tongkat kekaisarannya yang terbuat dari batu zafir.

Sudah ratusan tahun sang raja duduk diam saja; matanya kosong dan mukanya beku. Rambutnya yang panjang terurai sedang disisiri oleh dayang-dayangnya. Tampak kelam kulit sang maharaja, menandakan hatinya sedang gelisah. Semua yang hadir diam. Suasana istana itu demikian sunyi, tak satupun berani mengangkat suara. Para patih dan punggawa kerajaan duduk bersimpuh di balairung istana yang seluas bumi itu, menunggu kebisuan ini cair. Sementara itu diluar istana, para setan yang bukan dari golongan bangsawan istana duduk menganggur saja di jalan-jalan; berbaring di rumahnya, atau tertidur di kamar masing-masing membekap pasangan mereka; ada yang bercinta; tapi ada juga yang tak peduli pada situasi, keluyuran kesana kemari bersiul-siul. Satu hal yang jelas, semuanya tidak bekerja, menganggur! Penantian lama itu akhirnya berakhir sudah. Tiba-tiba maharaja Iblis bergumam, pelan, tapi terdengar sampai ke seluruh pelosok balairung yang seluas bumi itu.

“Kita harus berbuat sesuatu..”

“Apa itu paduka mulia? Haruskah kita mendemo Tuhan lagi,   yang membuat keadaan jadi begini?” tanya setan panglima.

“Tidak. Aku tahu betul sifat-sifat-Nya; dan lagipula aku masih mencintai-Nya. Dulu aku menginginkan penyatuan dengan-Nya, tapi Dia menginginkan perpisahan. Dia tugaskan aku untuk menyesatkan manusia. Jadi demikianlah tugas kita. Kejahatan adalah sumber rezeki kita yang dianugerahkan Tuhan sehingga kita makmur begini.”

“Lalu bagaimana?” tanya seorang petinggi istana.

“Kalian tahu, kerajaan kita semakin miskin dan diambang keterpurukan. Lapangan kerja kita diserobot manusia. Mereka yang seharusnya menjadi obyek kerja kita kini mengambil alih tugas-tugas kita.”

Memang demikianlah keadaannya. Semakin tua usia bumi semakin susut lapangan kerja buat para setan. Para manusia sudah pintar mengerjakan tugas-tugas setan, sehingga tak perlu lagi mereka dihasut-hasut  dan disesatkan. Manusia sudah otonom dan canggih dalam mengerjakan pekerjaan setan. Kini hanya setan-setan ahli saja yang masih mampu bekerja di era persaingan yang semakin ketat. Persaingan kerja? Ya, dikalangan setan sudah lama muncul persaingan mendapatkan pekerjaan karena semakin terbatasnya lapangan kerja. Jumlah manusia baik-baik yang dipanggil oleh Tuhan semakin banyak, sementara manusia baik-baik penggantinya semakin sedikit. Jadi di sini berlaku juga hukum ekonomi. Terlalu banyak pasokan tenaga kerja, tapi lapangan kerja susut.

“Maka dari itu,” Maharaja meneruskan bicaranya, “kita harus berbuat sesuatu, sesuatu yang radikal!”

Dan balairung itu kini tiba-tiba seperti menjadi sarang tawon. Semuanya saling berbicara satu sama lain menanggapi ucapan maharaja ini. Terjadi beberapa debat kusir di antara mereka sendiri. Lalu tampillah tokoh setan yang dihormati. Namanya Azazil, anak maharaja, meski sesungguhnya ini adalah nama lain dari maharaja. Tetapi maharaja iblis berkenan memberikan namanya untuk dipakai anaknya lantaran ia terkenal karena keluasan wawasan dan pandangan dan kecerdasannya. Dia berdiri lalu menepukkan kedua tangannya, memberi isyarat agar para hadirin diam. Pelan-pelan dengungan suara itu buyar lalu hening sama sekali. Angin dingin pun berhembus ketika dia berjalan ke depan maharaja.

“Yang mulia. Kita menghadapi keadaan genting. Diperlukan rencana masak-masak sebelum bertindak. Bertindak itu mudah, tapi bukan itu tujuannya. Tujuan kita adalah mendapatkan hak kita kembali, hak untuk menanamkan inisiatif atau memprovokasi kejahatan. Dan pekerjaan kita itu kini sudah tak dibutuhkan lagi oleh manusia. Pertanyaannya adalah kenapa bisa jadi begini?”

“Teruskan,” kata maharaja, dingin.

“Ini adalah kesalahan kita sendiri…” katanya pelan tapi tegas dengan memberi tekanan pada suku katanya satu per satu. Kembali balairung yang seluas bumi itu ribut. Maharaja mengangkat tangannya, dan para hadirin pun kembali tenang.

“Tolong jelaskan,” titah maharaja.

“Jadi saya ulangi, ini adalah kesalahan kita. Kita terlalu bernafsu untuk menyesatkan cucu Adam, agar mereka menemani kita di kerak neraka Jahanam. Sejak anak-anak Adam lahir dari rahim ibunya, kita meletakkan telur-telur kita di hati mereka. Dan anak-anak kita tumbuh dewasa bersama orang yang dia tempati. Kita didik anak-anak kita soal kejahatan dan cara-cara menyesatkan manusia. Tapi kita lupa memperhitungkan efeknya. Metode ini mudah disadap oleh orang-orang jahat didikan kita terdahulu. Akibatnya apa? Ajaran kita tak lagi istimewa karena tak ada lagi misteri di sana. Coba maharaja bandingkan dengan ajaran kitab-kitab suci yang ada. Semuanya mengandung misteri sehingga manusia terus-menerus mencari mutiara kandungannya dan patuh kepadanya namun tetap tak berhasil menguasai kandungan ajarannya secara total. Tapi ajaran kejahatan kita sudah mereka kuasai substansi dan intinya. Kita terlalu vulgar dalam menyampaikan ajaran kita. Akibatnya mereka bisa mengembangkan sendiri bentuk-bentuk kejahatan atas dasar prinsip itu. Mereka ternyata lebih kreatif ketimbang kita.”

“Interupsi Yang Mulia!” teriak salah satu pejabat setan, yang telinganya sebesar gunung.

“Silahkan”

“Saya kira kesalahan kita tak separah yang dikatakan tuan Azazil. Saya tak sepakat bahwa anak-anak Adam lebih kreatif daripada kita. Bagaimanapun juga kitalah yang mengajari mereka kejahatan. Kitalah yang pertama kali mengajari Habil dan Qabil membunuh. Jadi golongan setan jauh lebih unggul daripada manusia. Maka soal kreativitas kita tak kalah karena kita adalah, katakanlah, pihak penemu. Jadi…” Tapi belum sempat dia melanjutkan, ada setan lain, berkepala gundul, menyela: “Ah, kau itu hanya mengulang-ulang retorika lama! Tuan Azazil itu betul. Buktinya, kita bahkan terkejut melihat cara manusia berbuat kejahatan. Teknik kejahatan mereka tak pernah kita bayangkan!”

“Kau tolol!” sergah setan yang berbicara tadi. “Jika pola pikir kita demikian, itu artinya kita minder. Kita ini makhluk yang terkenal karena kesombongan kita. Sungguh memalukan jika kita mengakui keunggulan manusia. Untuk apa dulu maharaja menolak sujud pada Adam kalau sekarang kita mengakui keunggulan manusia!”

Maka ramailah balairung yang seluas bumi itu. Ada hadirin yang tampaknya menyetujui pendapat setan bertelinga sebesar gunung ini. Tapi ada juga yang berpandangan pro setan gundul. Lalu ada beberapa setan berdiri ke depan untuk mengemukakan protesnya dan mengajukan pendapatnya. Tapi dia dihalang-halangi oleh setan yang menentangnya, yang juga bermaksud sama. Maka terjadilah aksi saling dorong dan pukul. Terdengarlah ramai seruan-seruan:

“Kita bukan budak manusia! Hancurkan manusia! Hidup Setan Sombong!”

Maharaja hanya diam memandang saja. Ia sedang berpikir keras rupanya. Azazil angkat bicara:

“Tenang saudara sekalian, Tak usah kita ribut dan norak begini. Jika kalian merasa lebih tinggi dari manusia, mengapa kalian malah meniru-niru cara manusia dalam bedebat?” Para setan yang congkak itu tersadar, dan rupanya merasa malu karena mereka ikut-ikutan cara manusia yang mereka anggap lebih rendah statusnya itu. Prinsip kesombongan membuat mereka akur kembali. Azazil melanjutkan, “Kedua pandangan itu betul. Tapi kita lupa satu hal. Kalian kan tahu alasan Tuhan menyuruh kita sujud kepadanya. Mari kita ingat kembali; alasannya adalah karena Adam diajari Tuhan dan lebih sempurna daripada kita. Tapi, maaf baginda Iblis, ketika itu Yang Mulia tak mau kan, karena kita dari api dan tentunya lebih unggul. Tapi kini Tuhan telah memperlihatkan kepada kita bahwa keputusan-Nya untuk menyuruh kita sujud kepada Adam adalah benar dan sah!” Kalimat terakhir ini diucapkannya dengan intonasi keras dan tegas.

“Pertanggungjawabkan ucapanmu!” teriak setan berkepala tiga yang berada di baris ketiga dari depan. “Kau menghujat baginda! Itu sama saja kau menganggap baginda maharaja bodoh! Pengkhianat, Pancung saja dia!” teriak anak Iblis lainnya, yang sejak tadi diam. Dia ini sudah lama membencinya karena dia tak mampu menandingi kecerdasan Azazil. Namanya adalah Batilun. “Kita punya semboyan yang diucapkan oleh baginda maharaja sejak masa azali yakni: Aku lebih baik daripadanya! Dan ini bahkan sudah dicantumkan dalam kitab suci oleh Tuhan sebagai tanda identitas kita, ideologi kita, falsafah dasar kita. Kalau kita mengakui keunggulan Adam, berarti kita mengkhianati prinsip ini. Kita tak lagi menjadi setan kalau begitu caranya!”

 Maka ramailah lagi balairung yang seluas bumi itu. Kini perdebatan itu tak lagi membahas nasib rakyat setan yang sudah lama menganggur. Perdebatan itu kini berbelok ke soal ideologi dan autentisitas diri golongan setan. Ini memang soal krusial, sama krusialnya dengan persoalan pengangguran, sebab ini menyangkut eksistensi. Tapi maharaja masih diam membisu, hanya sekali-kali dia mengusap dahinya dan memutar-mutar tongkatnya. Asap dari bawah singgasananya semakin banyak.

“Baik, aku akan jelaskan.” Sergah Azazil, yang tampaknya mulai mendongkol karena disebut pengkhianat.

“Api memang lebih unggul daripada tanah. Tapi kita lupa dalam hal lain manusia jauh lebih hebat. Ia mempunyai akal yang membuat dirinya demikian kreatif, sehingga mampu menyerap ajaran kejahatan kita demikian sempurnanya lalu mengembangkannya. Jika manusia jadi jahat, kejahatannya bisa jadi luar biasa hingga lebih dahsyat dari pada kita. Jika dia jadi baik, kebaikannya demikian dahsyatnya hingga dia melampaui malaikat. Potensi sampai ke titik ekstrim inilah yang membuat manusia jadi lebih unggul daripada kita. Ini bukan berarti saya mengatakan baginda tidak tahu akan hal ini saat dulu disuruh sujud.”

Batilun membalas: “Tapi bagaimanapun juga eksistensi kita tetap lebih unggul. Eksistensi adalah segala-galanya. Apalah artinya kecerdasan dan potensi-potensi jika tak ada eksistensi yang merealisasikannya. Kalau kita tidak ditakdirkan hanya memanggul satu tugas, yakni menyeru pada kejahatan saja, aku yakin kita akan jauh lebih dahsyat ketimbang manusia. Bukankah baginda dulu adalah pemimpin para malaikat? Itu artinya kita juga punya kemungkinan untuk menjadi lebih tinggi daripada malaikat Nah, sekarang apa kita mau mengubah takdir kita? Bagaimana kalau kita mengganti sendiri peran kita. Bagaimana kalau kita ramai-ramai beribadah lagi seperti dulu, seperti ketika Adam belum diciptakan? Abaikan saja Adam! Bisakah kita?”

“Tidak bisa!” hampir serempak rakyat setan menjawab. Suaranya demikian gemuruh sampai terdengar ke kerajaan malaikat. Para malaikat yang sedang beribadah sempat terkejut. Tetapi mereka lalu tenggelam lagi dalam tugas-tugasnya. Kelakuan setan dari dulu memang aneh-aneh, jadi tak perlu diperhatikan, begitu pikir mereka.

“Nah, kalau begitu, kembali pada persoalan pengangguran, kita tak perlu minder. Kita hanya perlu merubah strategi kita.” tukas Batilun bersemangat.

“Sama saja,” bantah Azazil, mulai panas, merasa tersaingi.

“Strategi apapun sudah kita jalankan, tapi tetap saja kreativitas kejahatan manusia sulit kita tandingi.”

“Ah, kau hanya malas berpikir saja,” ejek Batilun.

“Hm, kalau begitu coba jelaskan strategimu kalau kau pintar!” kata Azazil, mukanya merah.

“Lho bukankah itu yang akan kita bahas? Kau tahu, kau sendiri malah melemahkan semangat kita semua dengan ucapanmu di awal pertemuan ini. Nah, aku disini bicara untuk mengembalikan semangat kita!” Batilun berkata, wajahnya tampak pongah, merasa di atas angin.

“Hei, aku tak melemahkan semangat! Aku memberi pertimbangan dan …” Belum selesai Azazil berkata, maharaja Iblis mendehem dan mengangkat tangannya.

“Cukup!” suaranya dingin dan tegas. Kini balairung seluas bumi itu mulai tenang kembali. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan maharaja.

“Kita memang keliru. Kita tak memperhitungkan kecerdasan manusia. Tapi Batilun juga benar. Kita perlu strategi baru. Dari perdebatan tadi ada satu persoalan yang akan kita jadikan titik masuk. Soal orang jahat yang makin banyak dan makin lihai dan licik. Mereka ini sudah terlalu banyak dan sebagian besar memegang kekuasaan politik dan ekonomi. Karena merekalah ajaran dan teknik kejahatan menjadi canggih. Jadi, yang harus kita lakukan adalah membantai dan membasmi begundal-begundal tengik itu.”

Gemparlah seisi balairung yang seluas bumi itu. Ini rencana luar biasa aneh! Raja kembali melanjutkan ucapannya: “Kita stop dulu menggoda orang-orang baik. Kita tumbuh suburkan orang-orang baik dan suci, sumber lapangan kerja kita. Nah, jika pentolan orang jahat sudah kita binasakan sampai ke akar-akarnya, langkah selanjutnya adalah membuat orang melupakan ajaran kejahatan dengan cara mempropagandakan kebaikan. Telur-telur kita jangan ditetaskan di dalam hati manusia, tapi di hati hewan-hewan saja. Kita didik anak cucu kita. Kelak jika orang baik tambah banyak dan kejahatan surut, baru kita bergerak mengambil kembali apa yang menjadi hak kita, yaitu kejahatan. Ini tak akan memakan waktu lama jika pentolan orang jahat segera kita bantai.”

“Yang mulia, bagaimana kita mesti membantainya? Apakah kita langsung saja turun tangan?” tanya panglima setan yang bermata tiga belas.

“Rasanya memang begitu.” Gegerlah seluruh balairung seluas bumi itu. Ini adalah keputusan radikal. Rencana gila! Setan turun tangan langsung membantai orang-orang jahat? Gagasan macam apa pula ini. Tapi keputusan sudah ditetapkan. Pengumuman di pasang di mana-mana. Para setan bersiaga penuh. Mereka yang sudah lama menganggur tanpa ragu mendukung rencana ini. Bermilyar-milyar setan siap dengan senjata di tangan, berbaris menunggu di gerbang antar dimensi yang menuju ke dunia manusia. Keadaan ditetapkan siaga perang. Baru kali ini Iblis memerangi kejahatan demi menegakkan kejahatan. Sungguh Iblis telah dipermalukan manusia. karena tak lagi superior dalam kejahatan. Manusia sudah menyainginya, dan bahkan sudah mulai mengungguli mereka.! Suasana alam menjadi gelap gulita. Awan hitam berarak, petir menyambar-nyambar, angin menderu-deru membawa hawa kematian. Darah-darah pembantaian sejak Habil dan Qabil dikumpulkan para setan dalam sebuah belanga yang besarnya menyamai langit dan bumi. Darah-darah manusia itu dimasak lalu diminumkan pada para setan. Kerajaan setan bergetar dahsyat, angin membadai dan petir mengguntur, asap berkepul tebal, terompet perang berdengung, debu-debu berhamburan, tanah merekah, langit terbelah, ketika maharaja, dengan pakaian perangnya yang mengerikan, berjalan di depan rakyatnya. Sorot matanya berkobar seperti api. Hawa panas berhembus mengiringi langkahnya. Langit dan bumi terkejut, dan gemetar.

Malaikat terperangah! Ada apa gerangan? Kenapa maharaja Iblis mengenakan baju perangnya? Apakah setan-setan itu hendak menyerbu kerajaan malaikat? Mereka tak tahu. Jibril bertanya-tanya, lalu terbang menemui Tuhan. Sementara itu manusia masih asyik dengan kehidupannya. Tapi seorang lelaki tua di ujung jalan di kaki gunung itu tampak sedih ketika melihat ke langit. Sejenak memejamkan matanya; lalu dengan lirih bergumam: “Gelap berlapis-lapis. Gelap berlapis-lapis.” Setelah itu sepi. Tak ada suara. Hanya angin bertiup menyapu debu jalanan. Tak terdengar apa-apa.

Cerpenku ini pernah dimuat di cybersastra.net tahun 2001 dengan judul “Ketika Setan Menganggur.”

 

 

Advertisements

One thought on “Musyawarah Iblis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s