Hikmah Dalam Kepahitan

lonelyflick

Dalam perjalanan ke tempat yang belum kita kenal, sering ada rintangan, halangan, atau tersesat. Bahkan terkadang bertemu dengan penipu. Demikian pula dalam perjalanan ruhani. Dan sejak belajar agama dan berusaha mencari-cari petunjuk, aku sendiri pun beberapa kali kesasar dan beberapa kali berjumpa dengan penipu, dan bahkan pernah tertipu dan dimanfaatkan. Tentu ini adalah akibat kebodohanku semata karena gagal membaca tanda-tanda.

Beruntunglah orang yang jalannya lurus dan lancar-lancar saja. Akan tetapi apakah jika kita pernah kesasar, tertipu dan karenanya mendapat malu, dipandang rendah, diejek, atau dibully, lantas kita berhenti? Tentu sebaiknya tidak, karena perjalanan adalah proses dengan banyak dimensi — proses belajar rasional dan intuisi, proses beramal, proses berlatih menjaga hati dalam beramal. proses membentuk akhlak, karakter, dan seterusnya. Dalam proses ini sebagian terus tersesat dan bahkan akhirnya menyimpang sepenuhnya; sebagian disadarkan, mengetahui ada kekeliruan, menyadari dirinya tertipu — entah itu tertipu orang lain, tertipu akalnya sendiri, tertipu oleh perasaannya sendiri ataupun tertipu oleh hawa nafsu sendiri.

Dan boleh jadi kepahitan ini adalah cara ALlah mengangkat kita dari kegelapan; kita tak pernah tahu bagaimana hidup akan berakhir; boleh jadi orang yang sekarang mengejek kita justru kelak berakhir dengan buruk; atau sebaliknya, mereka yang mengejek akan mendapat pengalaman lebih buruk dan berubah menjadi baik. Kita pun demikian; barangkali hari ini kita mendapat hal yang pahit, tetapi bermanfaat kelak di hari perhitungan; boleh jadi kepahitan ini adalah sarana yang membuat kita menjadi hamba yang lebih baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Almarhum Kyai Hasan Asykari atau Mbah Mangli r.a, seorang guru ruhani tarekat Qadiriyyah wa Naqsybandiyyah, pernah dawuh “apik ning menungso durung mesti apik ning Gusti Allah” (Baik di mata manusia belum tentu baik menurut ALlah), dan vice versa.

Karenanya bukan tugas kita mengutuki nasib jika akhirnya menyadari kita berkali-kali salah langkah. Seorang kyai mengatakan, dengan dasar ayat yang kurang lebih bermakna “barangsiapa bersungguh-sungguh niscaya akan Kami Tunjukkan jalan,” bahwa kadang-kadang seolah-olah Allah sengaja “membiarkan” hamba-Nya yang sedang mencari itu terjerumus dalam kesalahan untuk memberinya pengalaman sekaligus tes atau ujian seberapa jauh hamba akan “bersungguh-sungguh” sebelum diberi petunjuk. Ujian dan cobaan adalah keniscayaan karena demikianlah proses yang harus dilakoni seseorang jika ia ingin membuktikan dirinya layak menjadi hamba-Nya, mengujinya seberapa kuat ia akan terus berprasangka baik kepada Tuhan, dan seberapa yakin ia pada ayat-ayat-Nya.

Sebagai misal, kadang kita yang ingin bersungguh-sungguh kembali kepada Allah justru dipertemukan dengan orang-orang yang tampak alim namun penipu, atau guru/mursyid palsu; tetapi biasanya penipuan dan dusta tak akan bertahan lama. Jika kita memang bersungguh-sungguh niat kita untuk mengabdi kepada-Nya, maka Allah pada akhirnya akan memberi petunjuk bahwa seseorang itu ternyata penipu — dengan cara yang sesuai dengan Kehendak-Nya dan Pengetahuan-Nya, bukan dengan cara yang kita inginkan. Ini kadang memang menyakitkan, seolah-olah Allah malah menghukum kita atas upaya pengabdian kita, membuat kita marah dan malu setengah mati kepada orang lain karena kita menerima cercaan atau hinaan. Tetapi di balik hal pahit ini, Allah sebelumnya telah memberi “obat” bagi ruhani kita. Tinggal kita mau mengambilnya atau tidak — Rahmat-Nya mendahului Murka-Nya.

Ketika kesadaran terbuka, meski melalui hal yang pahit, maka itu adalah momen yang berharga karena memuat beberapa pelajaran:  Dalam konteks ini, apa yang kita alami adalah cara ALlah menghapus sebagian dari dosa kita. Ketika kita ditipu dan dizalimi oleh guru palsu, maka sesungguhnya kita lebih dekat dengan Allah, sebab “doa orang-orang yang teraniaya itu makbul.” Ini momen emas untuk kembali tersungkur bertaubat dihadapan Allah, sambil introspeksi: jangan-jangan amal kita yang lalu didasari pada niat yang mungkin awalnya benar namun kemudian menyimpang, karena kita terlalu melihat dan mengandalkan pada amal kita, merasa lebih baik dan karenanya dipertemukan dengan kejahatan yang berselubung kebaikan.

Jika karena pengalaman buruk ini lantas membuat kita berhenti atau surut dalam upaya kembali ke jalan Allah, maka kita harus lebih waspada dan patut instrospeksi. Ada nasihat bagus dari Syaikh Atthailah. Beliau mengatakan, salah satu tanda kita terlalu mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan (raja’) kepada rahmat ALlah tatkala kita salah/khilaf (atau tersambar oleh kesalahan). Jika kita surut dalam dalam beribadah lantaran amal ibadah kita ternyata membuahkan hasil yang tidak kita inginkan atau membuat kita kecewa karena berbagai sebab, maka boleh jadi amal ibadah kita telah ditunggangi oleh hawa nafsu. Syaikh Atthaillah dalam bagian lain juga mengingatkan “Maksiat dalam dosa itu mudah dilihat; maksiat dalam ibadah lebih sulit diketahui.”

Karena kita masih menggantungkan pada amal, maka kita menjadi jengkel ketika terkena masalah dan malu. Kita kadang protes: “Aku sudah beribadah dan beramal ini itu, namun mengapa justru ini yang kudapat?” Itu tanda-tanda dari hawa nafsu yang menuntut balasan sesuai keinginan yang pada ujungnya bisa menimbulkan prasangka buruk kepada Allah. Kyai Musthofa Bisri menjelaskan tentang berkurangnya harapan ini; menurut beliau,

“Syaikh Atthaillah telah memberi petunjuk tentang tanda orang yang terlalu mengandalkan dan menonjolkan pada amal ibadahnya: berkurangnya harapan (raja’) saat orang yang beramal itu berbuat atau mengalami kesalahan. Raja’ yakni berharap kasih-sayang (rahmat) dan fadhal (limpahan kebaikan) dari Allah merupakan imbanan dari khauf, cemas atau khawatir akan hukuman. Seorang hamba Allah, bagaimanapun keadaannya, tidak boleh kehilangan raja’, karena kehilangan harapan atau raja’ ini sama dengan berburuk sangka kepada Allah. Orang-orang arif (kaum arifin) tidak pernah kehilangan raja’ karena mereka tidak melihat apalagi mengandalkan amal mereka.”

Jadi, Allah Yang Maha Tahu memberi sebentuk cobaan yang pahit agar hamba-Nya sadar dan kembali meluruskan niat dan memberi isyarat sekaligus menguji seberapa ikhlas kita beramal — supaya kita bisa menyadari apakah amal ibadah kita sepenuhnya bergantung kepada-Nya dan dikembalikan kepada-Nya, atau apakah kita menggunakan amal untuk mendapatkan hasrat-hasrat tersembunyi selain demi Allah ta’ala?

Pada ujungnya, ini seolah-olah, dengan cara pahit semacam itu, Allah membukakan pintu ampunan lebar-lebar. Bagi orang yang mau tafakur dan tabah dalam keinginan untuk kembali ke ALlah, pengalaman pahit adalah isyarat agar kita lebih menguatkan tekad untuk semakin menggantungkan diri, walaupun harus secara bertahap, kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar tindak ibadah kita tidak justru membawa kita kepada “arogansi religius” yakni agar kita jangan merasa diri lebih baik daripada orang lain. Demikianlah, bagi orang yang mau terus-menerus tabah berjuang, bertafakur dan berusaha selalu ingat ALlah dan berprasangka baik, apa-apa yang terjadi mengandung keindahan bagi ruhani kita. Meski sering sulit “melihat” atau “merasakan” keindahan dalam setiap keadaan, namun bukan mustahil, atas seizin Allah,  kita bisa merasakannya secara ruhani asal kita mau terus berusaha dan berharap sekaligus takut kepada-Nya. Tentang hal ini, ada puisi indah yang menggambarkannya:

Allahku, kunikmati keindahan dalam keindahan 
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali
Allahku, inilah kerapuhanku ! tak kutanyakan kenapa
Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku ?—ampunilah aku—tanyalah jua yang ku punya kini :
Allahku mukallafkah aku dalam keindahanMu ?  

~ Gus Mus

Advertisements

One thought on “Hikmah Dalam Kepahitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s