Maharaja Burung

mythical-bird-Simorgh

Aku adalah burung di taman surgawi. Aku bukan dari dunia penuh debu ini.
— Rumi

Penyair Atthar membawa api cinta yang menyala. Begitu besar api itu. Membakar semua yang menghalangi tabah langkah di jalan penuh luka menganga. Demi apa?

Orang bertanya-tanya kepadanya. “Aku ingin menghapus jarak,” katanya. “Tetapi jarak itu ada di dalam jiwa. Jarak itu adalah berlapis-lapis tirai yang menyekat aku dengan Kekasih. Tirai kegelapan yang kuciptakan sendiri dari aliran darah yang membawa anak-anak iblis dalam alirannya. Maka aku lari ke dalam diri yang tampak gelap. Memasuki medan yang tak kukenal namun tak asing. Dunia jiwa yang menyimpan kerinduanku pada sang kekasih. Setiap kali aku tebas satu tirai kegelapan, aku melihat cahaya-cahaya kenangan elok, juga suara-suara merdu entah dari mana, memantul-mantul, bergaung dalam dada dan hati yang semakin terluka karena rindu semakin membara. Saat aku terpesona pada cahaya itu, tiba-tiba cahaya-cahaya itu berubah tirai kegelapan baru yang menutupi keelokan di yang awalnya tampak di kejauhan. Maka aku abaikan dan kutebas tirai-tirai gelap yang menjelma dari cahaya itu hingga terbuka. Demikian, setiap aku tebas tirai, terbuka seribu keindahan seribu suara merdu. Mereka ada di mana-mana. Tetapi selalu tampak ada yang lebih indah dikejauhan daripada yang kujumpai. Maka aku melangkah lagi menerabas tirai-tirai hingga aku lelah, jatuh bersimpuh. Aku Menjerit kepada Kekasih – ‘Duhai Kekasih, sampai kapan Engkau akan menggodaku, bersembunyi di balik cahaya-cahaya yang tiada habis-habisnya?’  Lalu aku lepaskan semua yang aku punya, aku kembalikan semua kepada Sang Kekasih. Kau tahu, setiap tarikan nafasku adalah ingatan tentang Kekasih, yang setiap hembusannya menjelma air mata kerinduan. Aku terus menangis, tiada lagi yang aku pikirkan, inginkan, kecuali Sang Kekasih. Hingga aku tak ingat apapun kecuali Kekasihku. Tiba-tiba aku sudah berada dalam pelukan-Nya.”

Orang-orang memintanya menuliskan pengalamannya. Tetapi Atthar tak tahu dengan cara apa ia harus menjelaskan perjalanan yang begitu panjang ini selain dengan kisah penuh perlambang? Maka ia pun menulis tentang burung-burung yang ingin pulang ke istana Maharaja Burung dan bertemu dengan sang  Simurgh.

Demikianlah, Atthar  menulis kisah perjalanan mencapai Sang Kekasih. Untuk mencapainya, kata Atthar, engkau harus melewati tujuh lembah dan tujuh gunung. mengarungi “penderitaan suci”.  Maka engkau harus punya seribu hati untuk menempuh jalan ini, agar setiap saat bisa mengorbankannya tanpa kehilangan yang lain.  Pada akhirnya hanya tigapuluh burung yang sampai pada Maharaja Burung Simurgh.

Tigapuluh burung adalah lambang tigapuluh juz Qur’an. Orang-orang yang berhati al-Qur’an-lah  yang akan sampai kepada pertemuan dengan Kekasihnya, Tuhannya. Kanjeng Nabi Muhammad junjungan kita adalah manusia pertama yang sampai kedudukan terpuji yang tertinggi ini, kedudukan yang bahkan tak bisa dicapai Jibril, malaikat yang paling dekat dengan Tuhan. Bukankah, dalam satu pengertian, Nabi Muhammad adalah perwujudan dari al-Qur’an. Bukankah akhlak Nabi adalah Qur’an itu sendiri?

Akhirnya, dalam keadaan tafakur itu, mereka menyadari bahwa mereka adalah sang Simurgh dan sang Simurgh adalah ketigapuluh burung itu sendiri. Mereka melihat diri mereka sendiri dan sang Simurgh dalam kesatuan, dan mereka menyadari bahwa mereka dan sang Simurgh adalah wujud yang satu jua. Ketika burung-burung itu meminta dipaparkan rahasia yang ajaib ini sang Simurgh pun berkata, ‘Bila kalian melintasi lembah-lembah jalan Ruhani, melakukan kewajiban yang baik maka kalian dapat melihat lembah hakikat dan kesempurnaanku. Akulah Simurgh sejati, maka leburkan diri kalian dalam diriku dengan jaya dan gembira, dan dalam diri-Ku kalian akan menemukan diri kalian sendiri.’ Dan burung-burung itu akhirnya meniadakan diri mereka dalam diri sang Simurgh, dan bayang-bayang telah lenyap dalam cahaya surya, begitulah adanya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s