Merak di Atas Langit

maxresdefault

Suatu hari nanti, anakku, mungkin engkau akan menemukan kisah yang kutulis di sini. Dan barangkali engkau juga akan heran dengan cerita ini. Tapi tidak mengapa. Ini dongeng sebelum tidur, dongeng yang mudah-mudahan akan membangunkan imajinasi, yang bisa menghibur malam-malammu.

Begini kisahnya.

Sewaktu anak-anak, kala masih sering tak peduli pada ingus yang dleweran dari kedua lubang hidungku, aku dulu sering bermain di sekitaran masjid desa. Di dekatnya ada kuburan tua yang teduh karena dinaungi pohon besar. Nisannya dari batu hitam. Tanpa pahatan nama. Anak-anak suka bermain di sebuah lapangan di dekat kuburan tua itu karena ada beberapa pohon besar – pohon mangga tua, rambutan, melinjo, juga pohon jambu.

Suatu hari aku melihat seorang pria berkumis dan berambut panjang, baju kumal yang kedodoran, berjalan mendekati kuburan tua. Pria itu berkeliling sejenak di sekitar makam, masuk ke semak-semak. Kemudian keluar lagi membawa sebuah batu yang agak besar, mungkin diameternya 70 sentimeter, dengan permukaan yang agak rata. Aku heran darimana dia memperoleh batu itu, sebab selama bertahun-tahun kami bermain di tempat itu, aku tak pernah melihat batu sebesar itu. Aku juga takjub pada kekuatannya. Seorang diri membawa batu yang berat seperti itu.

Ia meletakkan batu itu di sebelah makam,  duduk di atas batu itu, menghadap ke kuburan tua. Dia diam saja agak lama. Lalu dia menjulurkan tangannya, mengusap batu nisan. Sesudah itu dia mengubah posisi duduknya menghadap ke lapangan tempat kami bermain. Kemudian dia akan berbicara sendiri, seperti menggumam, tanpa mempedulikan kami yang bermain di lapangan di hadapannya. Selama satu atau dua jam ia duduk dan berbicara sendiri. Dari kejauhan dia tampak seperti seorang  yang sedang memberi wejangan. Sejak itu hampir setiap sore aku selalu melihat dia datang dan duduk di situ, berbicara sendiri, tersenyum sendiri, tertawa sendiri dan kadang aku memergokinya sedang menangis sendirian. Namun aku tak peduli, dan sepertinya kawan-kawan bermainku juga tak memperhatikan pria itu sama sekali. Bahkan kawan-kawan seolah-olah tak melihatnya. Entahlah.

Kadang-kadang setelah lelah bermain kejar-kejaran atau bermain bola, aku sengaja duduk tidak terlalu jauh dari pria itu. Aku ingin tahu apa perkataannya. Namun yang kudengar adalah seperti racauan. Kata-katanya tak bermakna. Tepatnya, aku tidak paham dia menggunakan bahasa apa, karena aku tak mengenali kata-kata yang digunakannya.

Demikianlah di setiap senja aku melihat pria itu datang dan berbicara sendiri. Hari demi hari dia terus datang, duduk dan bicara sendiri. Dan di setiap senja, jika lelah bermain, aku juga mulai terbiasa duduk istirahat di dekat pria itu. Dari hari ke hari jarak tempatku istirahat dengan tempat pria itu duduk semakin dekat. Hingga pada suatu hari tanpa sadar aku telah duduk dalam jarak hanya sekitar satu setengah meter darinya.

Sejak berani duduk lebih dekat itu aku mulai bisa mendengar kata-katanya lebih jelas, meski tak tahu dia bicara bahasa apa. Setiap hari aku juga mulai menyimak dengan seksama karena, walau tak paham, intonasi dan kata-katanya seperti berirama. Terkadang dia bicara seperti bernyanyi dengan irama pelan dan menyebabkan aku mengantuk. Bahkan, jika mendengar sambil mengantuk, aku merasa seakan berada di tempat lain yang tenang dan teduh.

Pria itu tetap tak mempedulikanku meski aku duduk di dekatnya. Ia terus berbicara sendiri seperti biasa. Hingga pada suatu sore, dia tiba-tiba menghentikan bicaranya, dan menengok ke arahku. Aku kaget ketika melihat matanya seperti mata harimau: tajam, waspada, dan awas. Pria itu tersenyum.  Lalu dia kembali menghadap lapangan, menggerakkan tangannya seperti dirijen memimpin orkestra. Lengan di bajunya yang kedodoran berkibar-kibar, menerbitkan kesiur angin lembut. Suatu saat dia menggerakkan tangannya ke arahku seperti sengaja mengirimkan hembusan angin menggunakan kibasan lengan bajunya. Angin itu memang tak kencang, namun dingin dan mengarah tepat ke mataku membuat mataku seperti klilipan. Aku mengucek mataku sebentar dan setelah kubuka mataku kembali aku duduk tegak karena kaget bukan main.

Aku melihat banyak orang berbaju putih  duduk di depan pria itu, yang kini di mataku tampak seperti mengenakan sorban dan gamis yang bersih, berbau wangi yang entah.  Makin lama makin banyak orang berdatangan.  Lapangan di depannya itu lama-lama penuh dengan orang. Dan kau tahu, ada yang aneh. Aku seperti mendengar kalimat pria  itu berubah. Dia seperti mengaji, membacakan beberapa ayat suci dan menerangkannya. Dia lalu mengajak orang-orang di depannya bertasbih dan bertahlil. Begitu ramai gemuruh tahlil itu. Aih, jika kukatakan jumlah orang yang datang ratusan, mungkin kau tak percaya, apalagi jika kusebutkan ribuan. Intinya saja,  hadirin begitu banyak.

Tetapi aku jadi bertanya-tanya, lapangan yang hanya seluas lapangan voli itu, mengapa bisa diisi begitu banyak orang? Setelah pria itu menghentikan kata-katanya, dan mengucapkan salam sebagai tanda selesai, orang-orang itu berdiri antri mencium tangannya, lalu mereka pergi dan hilang begitu saja. Aku tak mengerti. Pikiranku tak paham, dengan kedatangan orang yang begitu banyak., mengapa kawan-kawanku yang lain seperti tak melihat peristiwa dan keramaian ini – aku bahkan tidak melihat di mana kawan-kawanku.

Setelah semua mencium tangan, pria itu, seperti biasa, duduk diam lagi sejenak. Pada saat itu muncul keberanianku untuk bertanya. Aku  berdiri dan menghampirinya.

“Anda siapa sebenarnya?”
Dia menengok, lalu menjawab pelan, “Aku datang karena diminta saudara kita dari dunia yang bukan dunia kita. ”

Sebelum sempat aku bertanya lagi, dia memberiku isyarat untuk diam. Dia seperti berguman. Gumam suaranya di telingaku mirip suara dengung ribuan lebah. Lalu dia menengadah ke langit. Aku ikut mengarahkan pandangku ke langit. Mataku terbelalak. Tak kulihat langit biru. Yang kusaksikan adalah seekor merak   dengan ekor yang merentang dari timur ke barat, menutupi seluruh langit. Dari setiap ribuan tanda lingkaran di ribuan bulu ekornya yang berwarna-warni itu memancar cahaya kemilau lembut, seperti ribuan mata yang menerangi sekaligus mengawasi segala apa yang ada di alam semesta. Aku merasa tubuh dan kepalaku begitu ringan, lalu aku pingsan.

Ketika aku sadar kembali, kawan-kawanku sudah mengerumuniku. Aku duduk dan bertanya kepada mereka, ke mana pria itu pergi. Mereka saling berpandangan, seperti bingung.

Salah seorang dari kawanku berkata, “Pria siapa?”
“Lah itu pria tua yang tiap sore duduk di sebelah kuburan,” kataku penasaran.
Mereka kembali saling berpandangan, dan kawanku tadi menjawab, “Kamu kesurupan ya? Tak pernah ada pria duduk di sebelah kuburan!”
Aku tercekat.

Sejak kejadian tersebut, aku tak pernah lagi melihat dia datang ke kuburan tua itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s