Digital-Hate: Akar Otak 2D

Hate-Speech

“We have just enough religion to make us hate, but not enough to make us love.” ~ David Mitchell, The Thousand Autumns of Jacob de Zoet 

Benci, iri dan dengki adalah seperti tiga bersaudara yang saling membantu. Banyak hal menjadi sia-sia dan hancur berantakan karena sifat semacam ini. Seseorang kadang merasa iri dan dengki ketika melihat orang lain mendapat nikmat, dan karenanya perlahan ia mulai membenci.

Dalam kasus yang lebih parah, orang yang dengki dan benci akan berusaha agar orang lain kehilangan nikmat yang diperolehnya, atau setidaknya membuat orang lain menderita, entah secara fisik atau psikis. Lalu muncul fitnah, biasanya fitnah keji, dengan harapan akan banyak orang memakan fitnah itu dan akan lebih banyak orang lain yang ikut membenci dan dengki. Orang yang tingkat kebenciannya sedemikian rupa tidak akan pernah tenang sebelum orang yang dibencinya jatuh dan hancur. Seandainya fitnah demi fitnah tak juga berhasil, maka ia akan meningkatkan intensitas fitnahnya dan menghalalkan segala cara. Kebencian, iri dan dengki, membuat seseorang tak bisa melihat kebenaran atau kebaikan sedikitpun yang dibawa oleh orang yang dibencinya. Bahkan senyum tulus dari orang yang dibencinya akan ditafsirkan sebagai senyuman sinis atau mengejek.

Dari segi ruhani, setan akan memanfaatkan sifat ini untuk membangkitkan nafs yang sangat berbahaya. Setan tidak perlu bekerja keras. Ia mungkin hanya cukup “meniup-niup” bara kebencian itu agar terus membesar dan membakar. Salah satu unsur nafs buruk yang bisa menguat karena benci adalah sikap merasa diri selalu benar.

Pada awalnya mungkin ia hanya mengabaikan atau menyangkal begitu saja kebaikan dan kebenaran dari lawannya meski ada fakta atau bukti. Akan tetapi ketika pengabaian ini ia pupuk dan rawat terus-menerus dengan pupuk kebencian, maka pelan-pelan tanpa disadarinya, ia akan merasa bahwa kebenciannya punya justifikasi. Bahwa orang yang dibencinya adalah jahat atau bahkan harus salah. Pada titik ini nafs akan meyeretnya untuk menjadi pembegal kebenaran. Ia akan menggunakan dalil atau ayat untuk menjustifikasi kebenciannya. Sebab, jika tak bisa lagi menerima kebenaran yang berasal dari pihak yang dibenci, maka selalu ada alasan untuk membenarkan kebencian dirinya. Maka, selain memperkosa fakta, dengan melancarkan fitnah, ia juga akan memperkosa kebenaran, termasuk ayat-ayat suci, untuk menguatkan fitnahnya. Karena terbiasa memfitnah, terbiasa memperkosa fakta dan ayat, ia menjadi imun pada kesalahan dari dirinya sendiri. Ia tak pernah merasa bersalah. Bahkan jika kedustaan dan fitnahnya terbongkar, ia tidak akan merasa menyesal karena merasa itu adalah bagian dari ikhtiar di jalan Tuhan. Dan akan mengulanginya lagi, hingga menjadi kebiasaan. Dia akan terus berdusta, hingga sampai titik di mana ia percaya bahwa kebohongan yang dilakukannya adalah kebenaran dan fakta.

Jika kabut kebencian itu semakin pekat karena tindakannya yang membakar situasi dengan api fitnah dan dusta, dengan menyangkal fakta yang benar hanya karena bertentangan dengan hasratnya untuk membenci, maka nafs nya akan bangkit lebih kuat hingga menyeretnya pada titik di mana dirinya merasa sebagai pembela kebenaran atau bahkan merasa paling sah sebagai pembela Tuhan dan kebenaran. Apapun yang dilakukannya, termasuk dusta dan fitnah, akan diproyeksikan oleh nafsu sebagai tindakan yang benar untuk menegakkan kebenaran. Pada titik inilah kebencian dan kedengkian bukan hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak situasi dan merugikan orang lain — bahkan dalam banyak kasus melahirkan pertumpahan darah yang menyedihkan.

Di era ketika makin banyak orang menggunakan media sosial, kebencian diungkap dan menjadi viral, membentuk lingkaran digital benci yang tak berkesudahan. Seseorang memposting tulisan kebencian, dan diamini oleh sesama orang yang juga merasakan kebencian yang sama. Di sisi lain, pihak yang dibenci mungkin akan menanggapi dengan amarah. Lalu terjadi perdebatan. Dan kedua belah pihak, dengan dukungan dari pengguna sosial lainnya, akan melakukan pertikaian komentar, yang tak jarang berisi cacian, atau setidaknya mengungkapkan tulisan yang dianggap dapat menyakiti hati lawannya. Terjadilah lingkaran setan. Benci di atas benci, dan di dunia digital, benci di atas benci menjadi viral, berlipat ganda dalam hitungan menit, bahkan detik, melalui fasilitas share atau berbagi. Perdebatan sering tidak menghasilkan apapun kecuali perasaan marah dan makin sengit. Lalu masing-masing menunggu kesempatan untuk melontarkan hate-speech lagi. Otak para pembenci berisi prasangka buruk terus-menerus, dan mereka makin kreatif dalam menciptakan provokasi, dusta, hoax, bahkan fitnah. Kesalahan sekecil apapun akan “digoreng” agar tampak besar dan diharapkan terus membesar bak bola salju yang menggelinding. Media sosial perlahan-lahan melahirkan dan membiakkan manusia-manusia berotak 2D, otak berisi Digital-Dengki. Kedengkian digital ini membuat orang yang pandai sekalipun akan tampak bodoh karena mudah termakan isu dusta yang sesuai hasrat kebenciannya, berpikir dangkal dan tidak mau memandang situasi dan orang dari sudut pandang yang adil.  Maka ia akan berusaha terus menghasut, menciptakan lingkaran “Digital-Hasud” yang viral dalam wujud blog-blog atau status dan komentar yang menghasud. Makin banyak blog berisi “digital-hasud” yang tak pernah kehabisan bahan untuk memantik kebencian.  Terus begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai orang yang dibenci hancur berantakan atau rusak reputasinya.

Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana kebencian bisa merusak diri sendiri sedemikian parahnya? Barangkali kita hanya perlu ingat kisah seseorang yang saleh dan rajin beribadah, namun hidupnya berujung pada su’ul khatimah, akhir yang buruk. Dia adalah Ibnu Muljam, yang memandang Imam Ali karamallaahu wajhah sebagai orang paling jahat dan kemudian ia membunuh salah satu Sahabat yang telah dijanjikan masuk surga oleh Rasulullaah. Ia mengira anggapannya yang didasari oleh hasrat benci dan merasa benar sendiri adalah tindakan yang diridhai oleh Allah. Imam adz-Dzahabi berkata tentang Ibn Muljan, “Sebelumnya ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah SWT, tetapi akhir kehidupannya ditutup dengan keburukan. Dia membunuh amirul mukminin Imam Ali r.a. dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah melalui tetesan darah Imam Ali.”

Maka benarlah dawuh kanjeng Nabi, bahwa orang yang memupuk dan merawat kebencian, iri hati, dengki, sama artinya dengan membakar habis amal kebaikannya. Sebab sifat-sifat semacam itu akan melahirkan hasud, fitnah, dusta, bersikap tidak adil, provokasi pertikaian dan adu-domba, serta memutus tali silaturahmi.

Advertisements

4 thoughts on “Digital-Hate: Akar Otak 2D

  1. Seperti biasa, tulisan2 embah kanyut menentramkan utk dibaca, meskipun ttg kebencian hehe…keburukan akan menarik jutaan bahkan mungkin triliyunan keburukan lainnya.

    Like

  2. Siip mbah. Tak tambahi yo mbah, sedangkan cara kita agar terhindar dari aura negatip yg ujung2nya bisa punya sifat benci, iri, dengki adalah kita cuek -sbg penyimak- sj, nek te2p kepancing emosi ya menghindar saja jahui membaca atau ngobrol yg gak penting2 seperti itu. Diri kita sendiri yg jd pengendali, nek okeh mudhorot e segera tinggalkan sj tdk perlu bnyk pertimbangan walau karo konco dewe, krn bs gerus keikhlasan kita. Sing penting niat di hati gak mutus silaturahim. Tp sifat ngene iki cen akeh sik suudhon, dadi harus kuat pendirian kita. Tak tunggu tulisanmu meneh mbah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s