Huruf Yang Menari

hurupp

Benar kalam ilahi kita jumpai dalam bentuk huruf. Namun “bicara” adalah mengeluarkan suara. Huruf hanya tanda-tanda dari suara. Maka yang menghidupkan huruf adalah suara, melalui tindak membaca. Membaca bisa bermacam-macam caranya, bermacam-macam nadanya, intonasinya, pelan-pendeknya —  juga bermacam-macam iramanya. Sebagaimana ada banyak huruf, baik yang sudah punah maupun yang masih ada, demikian pula ada banyak suara. 

Sekarang, jika Allah Maha Indah, maka apapun yang datang dari-Nya adalah indah, termasuk kalam-Nya. Keindahan suara itu tak bisa kita dengar langsung melalui indera lahiriah. Kita membaca al-Qur’an dengan menyuarakannya. Dan ada beberapa orang yang membacanya dengan indah, dan ada yang datar-datar saja, membosankan, atau berisik. Yang bisa menghidupkan huruf dengan indah adalah mereka yang hatinya sudah tersambung dengan Yang Maha Indah. Dan itu tak bisa dipahami dan dimengerti kecuali oleh mereka yang sudah mengalami dan tenggelam dalam celupan Keindahan Ilahi, mereka yang tenggelam dalam keterpesonaan pada segala keindahan yang teraba oleh panca indera. Jiwa-jiwa yang indah dibangkitkan oleh suara-suara dan tembang yang indah yang bersumber dari Allah Yang Maha Indah. Tetapi keindahan ilahi tidak hanya indah, tetapi juga keindahan yang agung. Maka Allah adalah Maha Indah dan Maha Agung, jamal dan jalaal. Dia adalah keelokan dan keagungan yang mahasempurna (kamal).  Orang masuk ke dalam celupan Allah ini akan “disempurnakan” oleh-Nya sampai tingkat tertentu sebagaimana yang Dia kehendaki. Karenanya ia akan diliputi oleh keindahan, mabuk oleh keindahan, bergerak bersama irama keindahan, dan iapun menari secara ruhani, yang kadang meluber dalam bentuk ekspresi tarian spiritual. Sebagaimana huruf yang seakan menarik ketika disuarakan dengan indah, demikian pula wadag manusia akan menari ketika jiwanya mendengar suara-suara “tembang” ilahiah yang indah.

Tarian spiritual  adalah sebentuk perjalanan, atau tepatnya manifestasi dari perjalanan ke Yang Maha Indah. Para sufi adalah orang-orang yang peka terhadap suara-suara Ilahi, “musik kreatif” dari perintah Allah — dalam setiap pergerakan ada musik, dalam desir darah ada musik, dalam setiap detak jantung terdengar musik, dan dalam musik itu tersimpan “asma Allah” yang bisa didengar oleh mereka yang memiliki telinga batin. Maka tembang ilahi tak pernah berhenti, dan tarian, sesungguhnya, tak pernah usai, sebab Allah selalu “menarikan” ciptaannya, “menembangkan” kalam-Nya dengan elok dan puitis. Karenanya, sufi yang mendengar sapaan suara Ilahi akan terus menari, walau secara lahir ia tampak duduk diam — “Dan engkau akan menyaksikan gunung-gunung yang tampak diam itu [sesungguhnya] berjalan laksana  awan (Q.S. 27: 88). Setiap zarrah (atom) semesta selalu bergerak, setiap zarrah berzikir, dan setiap ucapan zikir dari atom-atom itu merealisasikan Asma Ilahi, dan setiap Asma memiliki lidah berbeda, dan setiap lidah melantunkan tembang. Dan  tembang-tembang Ilahiah inilah yang didengar para pecinta Tuhan, menguasai kesadarannya. Menari adalah manifestasi paradoks kesatuan: kepatuhan pada pakem tari (syariat) dan kebebasan batiniah (ekstasi).  Dengan cara ini maka mereka menari, menampilkan pantulan tarian-tarian keindahan ilahi

Jadinya, tarian sufi bukan sembarang tarian. Tarian sufi adalah tarian cinta, tarian kerinduan akan pertemuan dengan Kekasih yang indah tiada terperi. Seperti didendangkan oleh seorang penyanyi ini: 

Kita menari bukan sebarang tarian
Asalnya dari tanah orang-orang pilihan
Bila terdengar masnawi ciptaan maulana
Ku bunuh nafsu lebur rantainya dari badan

Hingga hilang bangga diri
Berani hidup berani mati
Bagai musafir bertemu janji
Ini Darwis sudah gila berahi

Kita tak rindu pada siasah dunia
Perangkapnya membuat manusia hampa
Untuk bertemu impian bukan percuma
Mengorbankan yang tersangat kita cinta

Bagai Yunus dimakan paus
Ibrahim tak makan api
Bertemu kekasih di malam kudus
Luka di badan tak terasa lagi
Pukullah rebana jantungku bersyairlah maulana
Aku mabuk hakiki mendengar suaramu

( 1 )
Sayang… pada mereka yang tak mengerti
Sayang… pada hati tertutup mati
Bagai sangkar tanpa penghuni
Burung berharga terlepas lari

( 2 )
Rindu (ya maulana)
Kembali bertemu (ya maulana)
Hatiku merindukan pemiliknya (ya maulana)
Rindu (ya maulana)
Kembali bersatu (ya maulana)
Kembali bersatu dengan yang dikasihi

( 3 )
Rindu (ya maulana)
Kembali bertemu (ya maulana)
Hatiku merindukan pemiliknya (ya maulana)
Rindu (ya maulana)
Kembali bersatu (ya maulana)
Kembali bersatu dengan kekasih

~ M. Nasir, Bila Rumi Menari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s