e-Mbribik : Modus Digital

digitalb

kamu adalah harapan yang gak pernah bisa jadi kenyataan
Ini hati masih ada serpihan diri lo. Ga bisa diilangin, gatau kenapa.
Jadi, maaf kalo gue gabisa ngelupain lo

Mungkin engkau tidak menyangka bahwa ungkapan “galau” semacam itu bisa terlontar dari seseorang yang galau dengan sosok yang diharapkan atau disukainya namun belum pernah bertemu fisik sama sekali, hanya melalui jejaring sosial. Bahkan rasa cinta via socmed bisa berpengaruh besar. Misalnya dalam kasus yang sudah menjadi “mantan” – terkadang seseorang yang sudah lama putus dan berbulan-bulan berusaha melupakannya, atau berusaha move-on, menjadi berantakan upaya move-on itu hanya karena membaca tulisan mantannya. Seperti kata pepatah, “gara-gara membaca status mantan sedetik, rusak move-on setahun.”

Memang semakin banyak anak muda yang mencari pasangan melalui socmed dengan berbagai alasan. Maka sering kita dengar ada hubungan [cinta] jarak jauh – long distance relationship / LDR – tanpa pernah bertatap-muka. Makin banyak orang yang mencoba ‘mbribik’ (istilah bahasa jawa kekinian untuk sebuah tindakan mendekati seseorang, atau “nyepik,” melalui rayuan atau cara-cara lain guna menarik perhatian dan, syukur-syukur, mendapatkan hati atau cinta yang diincar) melalui jejaring sosial.

Tetapi tentu saja tak ada yang melarangmu mencari jodoh atau pacaran melalui jejaring sosial, semacam facebook, twitter atau lainnya. Hanya saja, jika kau menjalin asmara dengan orang yang belum pernah bertatap-muka di dunia nyata, selalu ingat bahwa teks pada dasarnya tak memuat emosi. Jika apa yang kau baca dalam teks seperti menampilkan kesan emosi atau perasaan, sangat boleh jadi kesan itu adalah penafsiranmu. Setiap membaca teks, engkaulah yang menafsirkannya. Selalu ingat bahwa kata-kata yang ditulis dengan mesra untukmu mungkin ditulis oleh orang yang sedang mbribik dirimu sambil memeluk kekasihnya yang lain, atau sambil nangkring di toilet dengan blackberry di tangan.

Perbincanganmu dengan orang yang mungkin sedang mbribik via teks, gambar atau suara, pada dasarnya tak pernah bisa menggantikan perbincangan tatap-muka. Karena menggunakan medium perantara ketiga, maka engkau selalu harus  menafsirkan setiap teks, gambar foto atau suara secara tak lengkap, sebab kehangatan perbincangan via medium tak bisa menyamai kehangatan percakapan tatap-muka di dunia riil. Ketika engkau membaca kata “sayang” di suatu status atau komentar, atau mendengar sapaan mesra via voice messenger,atau menatap wajah orang yang sedang mendekatimu via cam, kau sesungguhnya tak pernah bisa yakin seratus persen apakah itu tulus atau tidak, sebab kau tak bisa melihat ekspresi sorot matanya, gerak tubuhnya, aliran emosi, nada suaranya, dan sentuhan melalui medium semacam itu.

Maka, perbincangan dengan teks adalah “perbincangan penafsiran” yang engkau lakukan dengan kacamata pengalamanmu. Bukan dengan empati yang sesungguhnya. Kupikir, empati yang sejati, hanya akan muncul jika kalian sudah bersilaturahmi dalam arti yang sebenarnya. Dan seandainya kalian berpacaran berbulan-bulan hanya via jejaring sosial dan belum bertatap-muka, maka pada hakikatnya engkau adalah anonim satu sama lain. Pengenalanmu satu sama lain hanya berdasarkan identitas di dunia cyber, identitas yang boleh jadi bukan yang sesungguhnya — sebab tentu kau tahu benar, satu orang bisa seperti amuba, “membelah diri,” menjadi banyak identitas dengan menciptakan lebih dari satu macam kepribadian melalui account yang berbeda-beda, yang bisa kau buat semudah membalik telapak tangan. Demikian juga kesanmu tentang foto bisa sangat salah – terutama ketika makin mudahnya orang menyunting foto dengan aplikasi mulai dari cam360 sampai progrm Photoshop, di mana wajah seseorang bisa berubah berbeda sangat jauh: lebih cling, putih, halus, tanpa noda.

Melalui medium semacam ini, bahkan engkau bisa merayu kekasihmu nun jauh di sana dengan rayuan paling gombal sedunia akhirat; tetapi sangat mungkin engkau tak berani melakukannya saat kau berhadap-hadapan. Apa sebab? Identitas maya melindungi dan menutup banyak kekurangan pada dirimu. Karena hakikatnya engkau anonim satu sama lain, kau bebas mengekpsresikan apa saja. Sekarang bayangkan jika sesungguhnya kekasihmu adalah orang paling pemalu sedunia. Ia mungkin tak ragu merayu dengan ucapan indah melangit penuh bunga-bunga sebab  perasaan malunya telah dilindungi oleh jati dirinya yang maya. Ya, sekali lagi, pada hakikatnya engkau tetap anonim di dunia maya sampai engkau bertemu dengan kekasihmu di dimensi ruang dan waktu yang nyata.

Segala bentuk tayangan artifisial di socmed ini terkadang membuat orang berharap terlalu tinggi sampai tahap di mana orang percaya bahwa apa yang ia bayangkan adalah sama persis dengan kenyataan yang belum pernah ditemuinya. Anggapan semacam ini jika berkepanjangan bisa menyebabkan “baper” akut. Ini masa-masa genting, sebab perpaduan ekspektasi terlalu tinggi plus baper bisa berdampak buruk jika kemudian kenyataan berbicara lain, atau mengecewakan karena tak sesuai anggapan dan perasaannya sendiri, atau ketika dalam relasi asmara tanpa tatap-muka itu seseorang kemudian “diputus hubungannya” oleh sang pacar nun jauh di sana pada saat dirinya masih merasa yakin benar tentang anggapannya sendiri terhadap pacarnya itu. Itu bisa benar-benar membikin, meminjam ungkapan seorang mantan penggalau digital:  “KZL ZBL BeTe dan nyesek di dada! Patah hati adeeek baang!”

Percayalah. Dalam hubungan antar manusia, apalagi hubungan asmara, engkau butuh lebih dari sekadar teks, gambar atau suara. Semua itu hanya mewakili manusia. Dan tentu kau paham, hal-hal yang mewakili bukanlah yang diwakili itu sendiri. Maka, teks-suara-gambar yang mewakili manusia bukanlah manusia. Kau harus bertemu dengan manusianya, bukan representasinya yang berwujud teks, atau audio-video.

Advertisements

One thought on “e-Mbribik : Modus Digital

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s