Pulang

the-road-that-leads-to-home-john-rivera

The thousand dreams I dreamed the splendid things I planned
I’d always built to last on weak and shifting sand
I lived by night and shunned the naked light of day
And only now I see how the years ran away
Yesterday when I was young
So many happy songs were waiting to be sung
So many wild pleasures lay in store for me
And so much pain my dazzled eyes refused to see
I ran so fast that time and youth at last ran out
I never stopped to think what life was all about
And every conversation I can now recall
Concerned itself with me and nothing else at all
Yesterday When I Was Young

Ada banyak peristiwa yang kita anggap besar; peristiwa yang laksana angin badai datang menerpa rumah kedirian kita, membuka jendela-jendela persepsi kita, mengguncang arsitektur kesadaran kita, dan mengubah diri kita, entah itu untuk sementara atau untuk selamanya. Lalu kita berusaha merenungkan dampak peristiwa itu, bagi diri kita sendiri atau, barangkali, bagi cara pandang kita terhadap keberadaan diri kita sebagai manusia. Namun peristiwa “besar” itu tak selalu berupa kejadian historis yang mengguncang tatanan sosial atau kemanusiaan — peristiwa besar itu boleh jadi sebentuk momen pencerahan, seperti lintasan cahaya kilat di kegelapan pekat yang membuat kita memandang situasi sekitar kita yang, walau mungkin hanya sesaat, membuat kita menyadari akan adanya sesuatu yang lain. Barangkali dalam perjalanan hidup kita ada banyak momen-momen pencerahan semacam itu. Namun, sayangnya, kita terlampau sibuk oleh hiruk-pikuk dunia, oleh pikiran yang seperti tiada kenal lelah menjelajah di benak kita. Karena itu, beberapa orang yang peduli pada kehidupan kontemplatif merasa harus menarik diri, setidaknya untuk sementara, untuk menangkap momen-momen pencerahan itu.

Tetapi, terkadang juga momen itu datang secara tak terduga, seperti sebentuk takdir yang tak terelakkan, memerangkap kita begitu saja dalam keterpesonaan mistis, membuat kita merasa waktu berhenti sepenuhnya, membuat kita merasakan sesuatu daya yang sungguh berada di luar kendali kita dan mengendalikan seluruh hidup kita. Dan kitapun bertanya-tanya lagi tentang siapa diri kita sesungguhnya: dari mana, mau ke mana dan untuk apa hidup? Apa arti kehidupan yang suatu saat nanti pasti berakhir?

Apakah hidup itu seperti yang digambarkan kisah Yunani kuno, mitos Sisifus? Sisifus dikutuk oleh para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung seumur hidupnya, dan begitu sampai di puncak, batu itu akan mengelinding lagi ke bawah — dan Sisifus harus mendorongnya lagi ke atas, dan kejadian itu berulang selamanya. Seperti juga kita semua, hari demi hari berjuang bertahan hidup meski kita tahu bahwa kematian tak bisa kita halau. Detik demi detik kita menyerap cinta dan bahagia, walau pada saat yang sama kita juga menghisap derita dan kesedihan. Barangkali tangis pertama bayi adalah tangis kebahagiaan dan kesedihan, sebab ia mungkin, entah bagaimana, tahu bahwa kelak akan menghadapi banyak hal yang mungkin membuat hatinya “berbunga-bunga” dan “berdarah-darah.”

 Selama pencarian makna ini, samar-samar saya mendengar ada aspek dalam agama Islam yang bisa membuat kita memahami makna kehidupan ini secara lebih mendalam dan membuat hidup kita lebih tenang dan damai — yakni ajaran Tasawuf. Saya mengawali perkenalan dengan Tasawuf dari buku-buku, dari cerita mulut ke mulut. Berbulan-bulan saya menekuninya, namun tak kunjung datang itu kedamaian di hati. Lalu muncul prasangka buruk ketika menjumpai banyak hal yang “aneh-aneh” dalam ajaran Tasawuf, dan prasangka ini bertambah kuat karena ada pandangan buruk tentang Tasawuf dari sebagian kalangan umat Islam modern. Pada akhirnya saya memutuskan untuk belajar langsung dari tangan pertama, kepada orang yang diakui luas sebagai Mursyid pengamal ajaran Tasawuf.

Ringkas cerita, saya datang dengan penuh semangat mengunjungi Guru Sufi termasyhur di Jawa Barat, Kyai Ahmad Shahibul Wafa Taj al-Arifin, Mursyid Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Di benak saya telah tersimpan banyak pertanyaan yang akan saya ajukan, dengan harapan beliau memberi keterangan yang panjang lebar. Tetapi peristiwa selanjutnya di luar dugaan saya.

 Saya berangkat dari Yogyakarta selepas subuh, naik kendaraan roda dua, dan sampai di Pesantrennya di Tasikmalaya pada malam hari. Selepas shalat subuh berjamaah keesokan harinya, saya ikut diajari zikir, atau inisiasi, yang diistilahkan talqin zikir. Sesudah itu saya menginap lagi untuk mempraktikkan ajaran zikir tarekat itu di sana, sembari mencari tahu lebih jauh tentang beberapa hal tentang tarekat.

Saat sowan di lain waktu, para tamu, termasuk saya, diberi kesempatan untuk berbincang dengan beliau. Setelah berbasa-basi sejenak, sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, Kyai tiba-tiba bertanya sambil memandang saya, “Siapa ya yang datang dari Yogya?” Saya bersama seorang teman saya mengangkat tangan. “Besok pulang ya,” kata beliau sambil tersenyum. Apa-apaan ini? Begitu pikiran saya waktu itu. Saya merasa tak puas. Namun selepas pertemuan, seorang ikhwan menasihati saya agar saya menuruti perintahnya. Akhirnya saya pulang juga esok hari selepas subuh, tanpa sempat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang masih tersimpan di pikiran.

 Baru saja saya sampai di kamar kost saya pada sore hari, datang seorang mahasiswi, teman dari teman saya. Kedatangannya hendak minta tolong karena ada keadaan darurat. Mahasiswi itu harus menyerahkan skripsinya esok hari, namun file skripsinya rusak terkena virus, padahal belum sempat di print-out. (Saya waktu itu memang bekerja di rental komputer sebagai tukang membantu membuat dan mengatasi segala masalah yang berhubungan dengan pengetikan, penyuntingan dan penyelesaian skripsi.) Dan kami berdua mengerjakan skripsi itu selepas maghrib hingga selesai menjelang subuh.

Setelah dia pulang, seusai salat subuh saya mulai memikirkan kejadian aneh ini. Mengapa sepulang dari pesantren itu saya disambut dengan permintaan tolong? Sepertinya Kyai itu tahu apa yang mesti saya lakukan bahkan sebelum peristiwanya terjadi. Saya terus memikirkannya, tapi tak juga menemukan jawaban yang memuaskan. Setelah beberapa bulan, pada satu ketika saya terbayang wajah Kyai itu dan sorot matanya. Pada detik itulah saya seperti melihat semuanya, seperti ada “lempengan cahaya pengetahuan” yang susul-menyusul masuk ke benak; dan entah bagaimana, saya merasa tak perlu lagi bertanya ke mana-mana. Apa yang selama berbulan-bulan saya pikirkan dengan segenap akal pikiran saya tiba-tiba menjadi jelas hanya dalam hitungan detik. Apa yang saya cari tiba-tiba sudah ada dalam hati.

  “Pengusiran” oleh sang Kyai itu menyadarkan saya tentang satu hal yang amat penting: bahwa ada banyak hal yang berada di luar jangkauan akal-logika, sesuatu yang mengatasi ruang dan waktu. Makna  murid  sami’na wa atha’na, “mendengar dan taat,” menjadi begitu jelas. Dalam kasus saya, Kyai itu sepertinya tahu bahwa hidup saya, pada momen itu, lebih bermanfaat jika saya pulang ketimbang jika saya ada di sana — saya bisa membantu seseorang keluar dari kesulitan.

 Pada akhirnya saya menyadari makna utama dari perintah “pulang” itu: Setiap mendengar kata pulang, biasanya yang kita ingat adalah rumah. ’Rumah’ adalah nama, sebuah kata, yang begitu kuat menyeretmu ke situasi yang terasa dekat, nyaman, tetapi sering jarang dijumpai setiap saat. Kita tentu bisa bepergian ke mana pun, dan tinggal di mana saja. Tetapi ketika ditanya, ‘dimana rumahmu?’ maka yang terbayang sangat mungkin bukan sebuah tempat tinggal, atau gedung, tempat kita  tidur dan istirahat; tempat tinggal tak selalu merupakan rumah. ‘Rumah’ mewakili sesuatu yang dekat dengan eksistensi kita, mewakili perasaan seperti kenangan tentang kehangatan dan dekapan kasih sayang seorang ibu. Betapapun semarak dan menyenangkannya hidup kita di luar sana, pada suatu waktu, terutama saat terbit perasaan begitu sunyi dan kecil, begitu letih, kita akan rindu untuk pulang ke ‘rumah’, tempat kita mengistirahatkan seluruh gelombang kehidupan dan pasangsurut kehidupan yang sering seakan terasa begitu membebani diri. Dalam konteks yang lebih dalam, saya harus pulang ke rumah. Saya harus “pulang” menziarahi diri saya sendiri, sebab segala apa yang saya cari ada dalam diri saya sendiri — man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.” Seperti anak-anak yang usai bermain lalu pulang ke kehangatan kasih-sayang ayah dan ibu,  saya juga harus pulang ke “rumah diri saya sendiri,” tempat segala rahasia dan awal dari segala peristiwa.

Advertisements

One thought on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s