ASMARADANA MBUNDHET

cintatak

Cucu-cucu sekalian. Mari berkumpul, Simbah ingin membacakan dongeng kepada kalian. Kisah ini Simbah ambil dari sebuah kitab Jawa kuno berjudul “Serat Ingkang Makempalaken Lakon Carangan Jagad Babad Rai,” atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan bebas sebagai “Kumpulan Cerita Dari Dunia Facebook.” Jadi aslinya tertulis dalam bahasa Jawa Kawi kuno, tapi simbah telah menerjemahkan sebagian di antaranya. Memang kisahnya amat banyak meski tidak sampai menghias angkasa seperti bintang kecil. Oleh karena itu, agar kalian tidak bosan, Simbah ambilkan dari Bab 13 saja yang, mudah-mudahan, berguna bagi kalian yang kelak akan menghadapi persaingan asmara. Ayo, duduk yang tenang dan dengarkan kisah penuh hikmah yang aslinya berjudul Asmaradana Ingkang Mbundhet.

Pada suatu zaman ketika hewan undur-undur masih mudah dijumpai, ada seorang pedagang Soto bernama Cak Ngarep Asmara. Ia berjualan Soto Babat di salah satu kios Stasiun Lempuyangan, bersebelahan dengan kawan karibnya, penjual Pecel, Kang Sutresno. Walaupun hanya berjualan soto, namun Cak Ngarep Asmara pandai membuat sajak yang indah. Demikian pula sahabatnya, Kang Sutresno. Bukan hanya itu, Kang Sutresno juga pandai memetik gitar dan memainkan tembang-tembang heavy metal.

Dasar seniman, Cak Ngarep Asmara dan Kang Sutresno tidak betah hanya duduk menunggu dan melayani pembeli. Akhirnya keduanya bersepakat menekuni dunia seni puisi. Kang Sutresno tetap berjualan pecel sambil menulis puisi secara serius dan kadang mengamen.  Cak Ngarep Asmara tampaknya lebih nekat. Ia menutup bisnis sotonya dan berharap bisa menjalani hidup bohemian. Akan tetapi rupanya Cak Ngarep Asmara kurang tangguh perutnya. Ia tak tahan lapar. Karena itu, untuk sekadar makan, Cak Ngarep beralih profesi menjadi tukang becak.  Sayangnya, Cak Ngarep Asmara tidak berpengalaman dalam marketing jasa perbecakan.

Namun Cak Ngarep Asmara memang orang kreatif. Dia tak kehilangan akal. Ia mencoba menggabungkan metode pemasaran becak dengan karya puisinya. Ia melakukannya dengan cara seperti ini: Setiap kali mendapat penumpang, Cak Ngarep Asmara akan mengayuh becak sambil membacakan puisinya dengan keras-keras. Walau terkadang air ludahnya muncrat-muncrat karena membaca dengan penuh semangat dan terengah-engah mengayuh becak, lama-kelamaan dia menjadi terkenal dan mendapat gelar “Penyair Mbecak.” Puisinya memang indah, dengan pilihan kata yang bisa melelehkan hati para wanita. Akibatnya banyak gadis-gadis berebut ingin menjadi penumpangnya. Bahkan nenek-nenek dan bencong-bencong tiada ragu tiada malu ikut berebut menjadi penumpangnya. Tak jarang ada bencong atau nenek-nenek rela menunggu berjam-jam hanya demi bisa naik becak dan mendengarkan bacaan sajak-sajaknya yang mampu membuai sukma.

Mendengar kabar kesukesan sahabatnya, Kang Sutresno bangkit semangatnya. Ia tidak mau kalah. Maka setiap kali ada orang membeli sepincuk pecel, ia akan memberi bonus satu lembar kertas berisi sajaknya. Jika ada yang membeli tiga pincuk pecel, maka ia akan memberi bonus tiga lembar sajak, plus dihibur dengan petikan gitarnya yang mendayu-dayu merayu kalbu. Jika ada yang membeli sepuluh pincuk pecel, maka ia akan memberi bonus seratus halaman sajak plus satu album musikalisasi puisi sajak-sajaknya. Lama-lama Kang Sutresno juga dikerubuti para pembeli dari kaum hawa dan waria. Maka ia pun terkenal sebagai Penyair Pincuk Pecel.

Sementara itu, ada seorang penumpang wanita manis berparas sendu berkulit putih-putih melati bernama Tumini yang benar-benar jatuh cinta kepada Cak Ngarep Asmara. Hatinya benar-benar seperti es krim yang dibiarkan kepanasan di bawah terik matahari setiap kali mendengarkan Cak Ngarep Asmara membacakan puisinya sambil terengah-engah mengayuh becak. Seperti kata pepatah, witing tresna jalaran seko kulina, cinta pun bersambut. Mereka berpacaran, memadu kasih dengan ditemani puisi-puisi. Perasaan mereka digambarkan oleh Cak Ngarep Asmara dalam ungkapan yang dipersembahkan khusus buat Tumini: “Hidupku menjelma puisi elok nan tak terperi sejak bayang-bayang senyummu mengalir dari jantungku.”

Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa Kang Sutresno juga menyukai Tumini. Maka panaslah hati Kang Sutresno mendengar kabar hubungan asmara sahabatnya itu. Ia segera bangkit berjuang melakukan perlawanan secara puitis. Tanpa ragu tanpa malu ia menyebarkan sajak-sajaknya – berlembar-lembar sajaknya, yang ditempel dengan foto wajah dirinya yang cukup tampan dengan kumis jarang-jarang, difotokopi berlipat ganda. Lembar-lembar sajaknya itu ditempel di pohon-pohon, di tiang listrik, di papan reklame, di bendera partai-partai yang dikibarkan tinggi-tinggi, bahkan di kotak amal masjid dekat rumah Tumini, di sepanjang jalan yang sering dilalui Tumini, bahkan di pagar rumah Tumini. Akibatnya mau tak mau Tumini juga membaca sajak-sajak itu. Ternyata sajak Kang Sutresno tak kalah dahsyatnya dalam mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang mampu membuat hati dan pikiran bagaikan terapung di atas mega-mega yang tersepuh warna emas pada senja hari. Misalnya seperti ini:

engkau yang bermata pelita
melintas bagai angin siang
Sedang aku adalah debu
yang bertahan sampai senja
Mencumbu wangi tubuhmu
Berharap mengecup embun
Dari sudut bibirmu

Rupanya Tumini lama-lama jatuh cinta pula kepada Kang Sutresno. Sungguh aneh hati perempuan itu. Tetapi barangkali demikianlah hasrat asmara:   tak peduli pada siapapun kecuali pada hasratnya sendiri. Tuminipun pusing tujuh keliling. Akhirnya ia tak sanggup menahan beban dua asmara yang bersemayam di hati. Tumini lalu berangkat menemui seorang tua  bernama Kyai Asmaradana, yang arif bijaksana dan bijaksini nan nyentrik. Kyai ini masyhur karena memiliki banyak hewan peliharaan yang tidak lazim: mulai dari bekicot, belut, lalat, tengu atau tumo kathok, jangkrik, undur-undur, kodok yang suka ngorek ing pinggir kali dengan suara thoot theblung theot theblung,  serta cacing dan belalang dan kupu-kupu yang siang tak makan nasi kalau malam tak minum susu.

Kyai Asmaradana berpesan kepada Tumini agar shalat istikharah selama tujuh hari tujuh malam tiada putus, sembari terus bergaul akrab dengan kedua penyair itu dalam rangka menelisik hati mereka berdua. Tak lupa ditambahkan syarat agar Tumini setiap sore membantu mengurus pakan dua peliharaan Kyai Asmaradana, yakni bekicot dan kodok. Pada malam ketujuh Tumini mendapat isyarat melalui mimpi: Ia melihat Kang Sutresno bertambah tampan dengan wajah penuh cahaya sedang memegang kitab sajak setebal setengah meter dan berkalung Kembang Turi. Tetapi ia tak melihat sosok Cak Ngarep Asmara. Kemudian, setelah berkonsultasi dengan Kyai Asmaradana, akhirnya Tumini memilih Kang Sutresno sebagai pendamping hidupnya.

Sebenarnya Kyai Asmaradana kurang cocok dengan pilihan Tumini, sebab menurut penglihatan mata batinnya yang sejernih mata air, Kang Sutresno ini dicintai oleh tiga ribu lima ratus wanita dan mamah-muda, sedangkan Cak Ngarep Asmara dicintai seribu dua ratus enambelas  wanita dan mamah muda dan beberapa waria. Sang Kyai merasa bahwa Kang Sutresno lebih playboy ketimbang Cak Ngarep Asmara. Namun karena hati Tumini sudah memilih, Kyai Asmaradana hanya bisa mendoakan. Sebelum Tumini pulang, Sang Kyai memberi hadiah tiga kilo undur-undur, untuk dijual sebagai bahan obat diabetes. Hasil penjualan akan dibagi dua, 40 persen untuk Tumini sebagai biaya nikah, dan 60 persen untuk sang Kyai sebagai tambahan modal untuk membuat kandang jangkrik.

Mendengar Tumini memilih Kang Sutresno, Cak Ngarep Asmara merasa marah, patah hati jadinya. Hidupnya bersimbah air mata kepedihan. Ia mengeluh, “apakah aku harus menerima ungkapan pelipur diri bahwa ‘cinta tak mesti bersatu?’ Ah itu pecundang. Aku harus terus berjuang sebelum janur kuning melengkung!”

Dia tidak terima cintanya ditikung sahabat sendiri. Dia nekat akan memisahkan keduanya. Akhirnya dia pergi ke ibukota negara menemui mbah dukun yang kodang makantar-kantar semburannya bernama Ki Jiwo Suloyo. Ia meminta agar Tumini dan Kang Sutresno dipisahkan dengan cara-cara goib. Namun Ki Jiwo Suloyo meminta mahar yang mahalnya ngudubilah setan. Cak Ngarep Asmara tak cukup dana. Dia menawar apakah maharnya boleh dikredit. Namun mbah dukun menolak karena nanti mantranya tidak manjur. Cak Ngarep Asmara baru sadar ternyata dia adalah dukun matre. Cak Ngarep Asmara menyerah. Namun karena sudah terlanjur di Jakarta, maka ia pun ingin bekerja saja di metropolitan itu untuk melupakan Tumini. Dia melamar menjadi driver Gojek, dan diterima. Ia tetap melakukan hal yang sama seperti ketika menjadi tukang becak: membacakan sajak-sajak saat mengantar penumpang dengan motor kreditannya. Kali ini melantunkan sajak-sajak kepedihan cinta, juga keagungan cinta yang melahirkan rasa sakit meski tanpa ada luka dan darah menetes di dada. Maka Penyair Mbecak bermetamorfosa menjadi Penyair Gojek.

Dan sejarah berulang. Ada penumpang bernama Nuryuminten yang jatuh hati kepadanya. Singkat kata singkat cerita, keduanya berpacaran. Sebagai hadiah ketika Nuryuminten ulang tahun, Cak Ngarep Asmara memberikannya seratus enampuluh lima puisi cinta yang dia minta dibaca sendiri keras-keras oleh Nuryuminten. Karena sungguh cinta, Nuryuminten menuruti permintaan pujaan hatinya. Akibatnya, kepala Nuryuminten puyeng dan bibirnya nyaris ndhower bin njebleh dan kaki varises karena berdiri lama membacakan seratus enampuluh lima puisi dengan suara keras-keras di depan Cak Ngarep Asmara yang menikmati dengan mata berkaca-kaca penuh haru.

Saat lebaran Nuryuminten mengajaknya mudik ke Yogya, hendak dikenalkan kepada keluarganya. Cak Ngarep Asmara pun bahagia. Sesampainya di rumah Nuryuminten, Cak Ngarep Asmara kaget bukan kepalang sampai hampir jatuh kejengkang. Kok ada Kang Sutresno di rumah Nuryuminten? Ternyata Nuryuminten adalah kakak kandung Tumini. Akhirnya sang Penyair Mbecak atau Penyair Gojek dan Penyair Pincuk Pecel kembali berdamai setelah masing-masing memiliki kekasih hati. Keduanya hidup rukun dan damai, saling tolong-menolong, bergotong-royong, menuju rumah tangga yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kertaraharja wilujeng  nir sambekala.

Begitulah cucu sekalian, kadang-kadang Tuhan memberimu rasa cinta pada orang tidak tepat dan membuatmu berdarah-darah penuh derita sebelum engkau menemukan orang yang tepat untuk engkau cintai – yakni tepat menurut Tuhan. Jika itu tepat menurut Pencipta dan Pengatur Segala urusan, maka tepat pula urusan lain-lain yang berkaitan dengan cintamu kepada kekasihmu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s