UPIL DAN NGUPIL

 

ngupil0

Kami memanggilnya dengan sebutan mamang. Alasannya sederhana saja. Meski masih muda, dengan usia masih di bawah 25 tahun, namun wajahnya agak boros untuk orang seusianya. Mungkin kesan boros itu adalah efek dari kumisnya. Bentuk kumisnya memang agak aneh. Jika tak dirapikan, ia mirip “rumput jepang.” Kawan-kawanku sering meledeknya. Begini: Kumis jabrik semacam itu memang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya sebagai bendungan upil agar tidak jatuh berguguran.

Mamang tak jarang bertandang ke rumahku bersama pacarnya. Jika ia datang, terkadang anakku ikut duduk bersama mengamat-amati kami berbicara. Anak kecil, kau tahu, sering melihat hal-hal yang tidak kita perhatikan. Dan dalam kasus tamu berjuluk mamang itu, pengamatannya terkadang menimbulkan malapetaka bagi ayahnya.

Tak lama setelah mamang pulang, anakku mendekatiku dan bertanya dengan serius, “Ayah, kumis om mamang mengapa berdiri seperti bulu kucing yang sedang marah?”
“Oh, begini. Kumis itu diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk jabrik dan kaku seperti itu. Sebab Tuhan juga menciptakan banyak upil di hidungnya. Nah, kumis itu gunanya adalah membendung upil agar tidak berjatuhan. Jadi kumisnya harus keras dan kaku, agar kuat menahan beban upil yang bertumpuk-tumpuk di hidungnya,” jawabku asal-asalan.

“Kenapa Tuhan menciptakan upil, yah?” Mendengar pertanyaan lanjutan ini, aku menjadi cemas. Engkau tentu tahu bahwa anak-anak adalah filsuf yang hebat. Mereka punya banyak pertanyaan yang bisa membuat semua pengetahuanmu tidak berguna. Tetapi sebagai ayah yang baik, aku berusaha tidak putus asa agar tidak kelihatan terlalu bodoh di mata anakku.

“Begini nak. Upil itu adalah ingus yang mengeras atau ada kotoran menumpuk di hidung yang lama-lama bercampur dengan cairan di hidung dan menggumpal membentuk bulatan-bulatan yang empuk. Ya tidak selalu bulat memang, kadang lonjong atau pipih. Itulah yang disebut upil. Gunanya adalah untuk melatih jari agar lincah.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan uthik-uthik upil. Jarimu akan lentur.”
“Gunanya apa lagi, yah?”
Aku berpikir sebentar. Sepertinya ini kesempatan untuk menanamkan sedikit nilai moral kepada anak itu. Maka aku menjawab, “Jadi, upil buat diuthik-uthik. Nah, menguthik-uthik upil itu adalah kegiatan yang lebih bermanfaat daripada membicarakan keburukan dan kehidupan orang lain.”

“Rasanya upil seperti apa yah?” ia kembali bertanya.
“Asin. Tetapi jangan coba-coba menjilat langsung. Itu jorok.”
“Kenapa rasanya asin, yah?”
“Eng … itu buat kesehatan hidung. Yang asin-asin itu bisa menyehatkan. Seperti keju. Keju itu rasanya asin. Suka keju toh? Nah, keju asin dan menyehatkan,” jawabku sekenanya.

Anakku lalu melangkah pergi dengan manggut-manggut. Syukurlah ia tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya. Aku menarik nafas lega. Tak lama kemudian anakku datang lagi, duduk di dekat gelas kopiku lalu memasukkan beberapa bulatan kecil berwarna hijau. Aku terperanjat.

“Loh apa itu? Upil ya?” seruku agak panik.
“Iya. Upilku.”
“Laah, kenapa upilnya dimasukkan ke kopi?”
“Adik mau minum. Tapi adik tak suka rasa kopi pahit. Jadi dikasih upil biar kopinya rasa keju.”

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s