My Novel | Setelah 7 Tahun

Print

Membaca kembali karya lama ini, yang terbit tujuh tahun yang lalu, adalah melihat begitu banyak kekurangan dan kelemahan. Dari segi cerita dan penokohan, tokoh  dan alur dalam novel ini tidak berhasil. Novel ini adalah pengalaman pertama menulis buku setelah sekian lama hanya menjadi editor dan menikmati berbagai macam bacaan. Aku ingat benar bahwa penulisannya memang buru-buru, karena didesak oleh penerbitnya agar selesai tepat sesuai jadwal.  Lagipula ini juga baru setengah jadi konsepnya, sebab bahan dasarnya adalah pelajaran yang belum tuntas dari beberapa guru yang aku jumpai. Karenanya, novel ini pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai sebuah cerita panjang, melainkan sebagai catatan-catatan kenangan dan pelajaran ruhani. Ia seperti sebuah isi pelajaran yang dihias-paksa dengan cerita sederhana. Karena terdesak waktu, maka imbuhan elemen fiksinya diambil dari berbagai pengalaman diri dan orang lain, yang dicampurkan sedemikian rupa sekadar untuk membentuk alur kisah.

Ya, sebagai novel, ia mungkin buruk dan banyak kelemahan. Jika pembaca berharap mendapat kisah yang memikat, maka sangat mungkin akan kecewa. Namun jika ingin melihat sebagian dari isi garis-garis besar perjalanan ruhani, mungkin pembaca akan menemukan sesuatu yang berbeda. Karena sebagian isi juga mengambil dari catatan harian di masa lampau, maka novel ini lebih banyak berisi tentang perenungan dan pelajaran. Seperti, misalnya, catatan harian pribadi tahun 2008, yang kuselipkan dalam novel ini:

Stasiun demi stasiun dilewati. Dalam gerbong udara seperti ingin membeku. Dinding-dinding gerbong bergetar, sambungan gerbong terdengar berderak-derak menyakitkan telinga jika pintu yang menghubungkan antar gerbong terbuka. Sebagian penumpang lain duduk seperti patung, sebagian membaca, sebagian berbincang, dan sebagian terlelap. Semuanya dengan pikiran masing-masing. Kadang-kadang aku merasa heran. Semua pergi ke satu tujuan, dalam kereta yang sama, tetapi membawa pikiran yang berbeda-beda, urusan yang berbeda-beda. Aku duduk dalam satu ruang dengan mereka, begitu dekat, tapi tak saling menyapa, tak saling menatap, hanya membisu. Mungkin kereta ini harus terkena bencana dulu agar aku, para penumpang, bisa saling menatap, menjadi akrab; bukankah perasaan senasib sependeritaan membuat kita mudah merasa akrab dan penuh perhatian? Ah, di luar kereta begitu gaduh, tetapi di dalam sangatlah sunyi. Dari jendela kulihat selarik petir, tetapi suaranya hanya sayup terdengar di dalam sini.

Penumpang sebelahku telah terlelap dalam selimut. Malam terus mengalir, tetapi jarak tak ikut bergerak. Aku selalu tak sabar di gerbong kereta, sebab aku tahu maut sedang mengintip. Maut sedang mengocok kartu kematian. Jika kartuku terbuka, aku yakin malaikat maut akan segera bergerak mencabut nyawaku, entah itu dengan cara menggulingkan kereta dengan keras, atau membenturkannya dengan kereta lain, atau entah dengan cara lain yang tak terduga….

Dalam situasi ini aku, para penumpang, sesungguhnya adalah tubuh dan jiwa yang tak berdaya. Aku tak bisa menentukan nasibku sendiri – semuanya tergantung kepada nasib. Apa yang bisa aku lakukan jika tiba-tiba kereta mogok, atau tergelincir? Detik demi detik aku seperti dinanti sesuatu yang berada di luar kuasaku, sesuatu yang barangkali bisa disebut nasib baik atau nasib buruk. Sesuatu yang aku sebut takdir.

Gerbong-gerbong ini mungkin akan menjadi deretan keranda mayat jika Allah menghendaki. Bahkan sesungguhnya, di setiap tarikan nafas dalam rentang hidup, malaikat maut mengintai, menunggu titah Allah. Lantas, kepada siapakah aku mesti berlindung dan berharap?

Dan dari bahan novel inilah kemudian aku mengembangkan kandungannya dalam bentuk buku lain, bukan lagi novel, namun buku umum yang menjelaskan sejarah dan ajaran keruhanian. Aku tidak menyesal telah menulis karya yang tidak bagus semacam ini, sebab ia menjadi salah satu bagian dari proses panjang dalam perjalanan, baik dalam konteks pekerjaan, maupun dalam konteks perjalanan hidup.

Judul : Gunung Makrifat Penulis : Tri Wibowo BS |  Penerbit : Kakilangit Kencana | Tebal : 287 Halaman | Terbit :  2009.

Yang tertarik mendapatkannya bisa kontak inbok mbak Iffah di sini atau alternatifnya  di sini 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s