Badak Sambel: A Memory

556d39670423bd5a718b4568

“Setelah seperempat abad, apa yang kau rasakan saat melihat gedung megah itu?” Demikian kau bertanya padaku pada suatu sore tatkala gerimis pertama menetes tepat di depan pintu gerbang sambil menatap bangunan SMA 3 Semarang, tempat kami dulu belajar. Bangunan yang sekarang tampak lebih mewah, bersih, dan modern.

Sahabat lamaku yang baik, jika yang engkau maksud adalah seluruh bangunan modern itu, entah mengapa aku merasa asing, merasa hanya melihat kenangan yang memudar.  Entahlah. Barangkali perasaan ini hanyalah sebentuk romantisme masa lalu, sebentuk ketidaksiapan melihat sesuatu yang dulu sangat membekas di hati kita, mendadak tiada, digantikan oleh sesuatu yang tak pernah kita bayangkan. Kau tahu, ingatan masa lalu yang menyenangkan kadang menelusup begitu saja diam-diam, lalu berubah menjadi seperti pisau yang menusuk ulu hati ketika sesuatu yang kita kenang itu telah tiada, berubah menjadi begitu asing, begitu jauh.

Yah, benar kenangan itu ada di dada kita, tersimpan rapi entah di mana dalam sel-sel dan darah di otak kita. Namun sebagian kenang itu ada di setiap jejak yang pernah kita lalui, dan ketika jejak itu tiada, kita merasakan kehilangan. Lihatlah gedung megah itu, dengan lantai yang mengkilap. Kita tak punya hubungan apapun dengan bangunan modern itu. Satu-satunya yang tersisa bagi kenangan kita, barangkali, adalah gedung tua tepat di depan kita itu . Kau tahu kawan, aku datang ke sini berniat ingin merasakan kembali riuhnya kelas ‘kandang ayam’ kita, duduk di kursi-kursi panjang di depan jendela yang begitu besar, bahkan besarnya melebihi pintu-pintu kelas kita. Aku ingin mendatangi setiap kelas-kelas yang bercat lusuh, mengingat-ingat kembali kawan lama kita, kenakalan-kenakalan mereka, keceriaan mereka. Tetapi bangunan modern ini merenggut semuanya; ada yang pupus saat aku menatap kemegahan kelas-kelas kita ini. Sudahkah kau mencicipi ‘badak sambel’ di kantin yang sekarang begitu rapi? Rasanya tak seenak dulu bukan? Bahkan suasana saat kita makan di sana, sekarang begitu asing bukan?

Kelas kita yang kumuh dulu itu pernah menjadi bagian dari masa-masa ketika kita bergulat dengan diri kita, mencoba merancang masa depan, mengasah akal-budi kita untuk menghadap masa-masa yang kita sebut kedewasaan. Saat kau menatap bekas kelasmu yang kini telah menjadi begitu mengkilap, adakah kau merasakan kita pernah di sini? Barangkali masih, tetapi tetap saja ada sesuatu yang hilang bukan? bahkan konblok depan sekolah kita ini terasa begitu asing. Betapa panas. Ke mana lagi mesti kukenang masa-masa kita bermain-main basket dan voli di halaman yang dulu sederhana itu?

Kau tahu, ada banyak rahasia tersimpan di setiap kelas kita, yang hanya kita saja yang tahu betul seluruh rahasia itu, dengan segala emosi-emosinya, dengan segala persahabatan dan permusuhannya, dengan segala cinta dan kepedihannya.

Tetapi, ya, yang niscaya hanyalah perubahan bukan?

Kawan-kawan kita, para “satria ganesha,” mungkin telah berubah – menjadi lebih gemuk, lebih kurus, lebih dewasa, lebih alim, lebih nakal, lebih keibuan, atau apapun.  Sebagian besar kawan-kawan telah beranak-pinak, mengendarai mobil dari hasil jerih payahnya, sibuk dengan rutinitas demi nafkah sehari-hari dan, barangkali, demi beribu keinginan lainnya yang muncul seiring dengan makin mapannya mereka.

Kadang menjadi dewasa tak menyenangkan, karena ada tanggung jawab di pundak kita. Itulah mengapa kenangan tentang masa-masa ketika kita tak begitu terbebani menjadi terasa sangat indah – apalagi jika kita masih bisa menyentuh jejak-jejaknya. Tetapi, yah, jejak itu telah punah. Kelas-kelas lama kita telah tiada. Yang tersisa hanya ingatan, yang pelan-pelan juga memudar.

Advertisements

3 thoughts on “Badak Sambel: A Memory

  1. masa lalu membawa luka yg minta dielus dengan rindu yg mendekapmu dalam kesunyian,, sendu sedan kemiskinanku saat itu tapi kutakmerasa,, karna tidak ada beban tanggungjawab seperti saat ini dan duniaku sangatlah sederhana dan mungil saat itu,, rinduku terbelenggu waktu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s