Minum Kopi

minumkopi.jpg

“As long as there was coffee in the world, how bad could things be?”
― Cassandra Clare, City of Ashes

Aku punya cara sendiri menikmati kopi. Sembari menunggu air mendidih di atas kompor, ambil dua atau tiga sendok kopi – tergantung apakah mood sedang ingin yang lebih kental dan pahit atau tidak. Jikalau hati sedang muram, kutambahkan sedikit gula pasir. Agar aku ingat bahwa hal-hal yang muram sebaiknya diberi seduhan kegembiraan yang manis. Aku lebih suka gula pasir yang berwarna kusam dan lusuh penampilannya. Menurutku, gula pasir yang bentuknya tampak putih bersih itu tidak alami. Gula yang berwarna kekuningan seperti warna batang tebu, dan sedikit kotor, adalah pilihan terbaik. Sedangkan ketika hati sedang riang, kopi yang lebih pahit adalah lebih baik. Agar aku ingat bahwa manisnya hidup sebaiknya diberi seduhan kesedihan agar kegembiraan tak meluap dan membuatku lupa akan keseimbangan.

Air harus mendidih, dan perlu kutambahkan bahwa aku tak pernah memusingkan berapa suhu yang tepat untuk menyeduh kopi. Yang jelas, kopi yang tak diseduh dengan air mendidih tidak akan “jadi.” Malah membuat perut senep, atau kembung dan mulas.

Aku mengaduk dengan hati-hati. Duapuluh tujuh kali adukan mungkin jumlah yang pas. Sebaiknya kopi diminum selagi masih panas. Itu prinsip yang aku anut selama bertahun-tahun. Jika ingat tentu tidak lupa mengirimkan “hadiah” al-Fatihah kepada Syekh Syadzili. Sebab konon kopi adalah minuman para Wali Allah, dan Syekh Syadzili adalah salah satu Wali yang ahli meracik kopi menjadi minuman untuk kawan begadang untuk bertafakur atau  berzikir.

Menyeruput kopi sebaiknya pelan-pelan. Tak perlu terburu-buru. Dua atau tiga kali sruputan. Kemudian tutup gelas segera seusai menyeruputnya agar aromanya tak menguar dan mengurangi keharumannya. Tak lupa beberapa kali hisapan rokok, sambil memandang ke luar jendela, menatap langit.

Seruput kopi perlahan sehingga terdengar suara yang khas, lalu letakkan kembali dengan hati-hati ke lepek gelas, sampai terdengar suara ‘trek.’ Aku suka sekali mendengar suara benturan halus antara dasar gelas dengan permukaan lepek. Suara termerdu yang selalu ingin kudengar setiap pagi. Semacam pengganti kerinduan pada suara alami, seperti cicit burung pagi hari, atau desir dedaunan pohon di halaman rumah. Jika cuaca sedang mendung atau gerimis, aku bawa minuman kopi beranda rumah. Minum kopi sambil memandang gerimis, uap kopi, juga hembusan asap rokok, adalah cara agar selalu ingat pada kabut di kampung halamannya setiap pagi. Geerimis adalah suasana muram yang eksotik, seperti saat pagi di lereng gunung: dingin, basah, dan purba.

Demikianlah caraku minum kopi. Memaknainya sebagai ritual mengenang hal-hal sederhana di masa lalu yang kini sulit didapatkan kembali: ketenangan, tidak buru-buru,  santai, menikmati hal-hal yang sedang dijalani tanpa harus memikirkan hal-hal lain yang mengganggu. Kau tahu, santai dan sikap tak buru-buru, adalah barang mewah bagi orang sibuk di kota yang sibuk.

Namun ada satu macam wedang kopi yang nikmat rasanya tak hanya di mulut: kopi buatan istri, sebab wedang itu dibuat dan diseduh dengan cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s