Dari Balik Debu

shingles_2007

| Pada sebuah senja yang muram di lereng Merapi, beberapa tahun lampau. Ke manapun memandang kau akan seperti melihat foto tua: segala sesuatu berwarna abu-abu, kusam: jalan, rumah, pohon, tanah kering. Bahkan kadang langitpun tampak abu-abu tertutup abu vulkanik yang berhamburan ditiup angin. Dari radio transistor berita tentang korban dan kerusakan sayup-sayup terdengar. Waktu seakan surut ke belakang, menyeretmu ke masa lampau yang asing.

Duduk di teras rumah, memandang seorang lelaki tua menggembalakan kambing di kebun kosong depan rumah. Kambing-kambing itu hanya berkeliaran tak mau memakan dedaunan yang tertutup debu vulkanik merapi.  Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa pak tua itu nekat membawa kambingnya meski ia tahu mereka tak akan mau makan daun tertutup abu itu? Segala kerusakan, segala kesedihan, dan hal-hal yang menyakitkan serta kematian dan kemusnahan — mengapa, atau untuk apa?

Tiba-tiba pak tua itu mendekatiku, menepuk bahuku, tersenyum, berucap pelan: “la ilaha illa Allah.”

Belum sempat aku ucapkan tanya apakah itu jawaban dari pertanyaan di hatiku, pak tua itu mengangguk. Lalu pergi bersama kambing-kambingnya. Kemudian sunyi kembali, sebelum tetes gerimis pertama mengetuk-ngetuk tanah berdebu.

Advertisements

One thought on “Dari Balik Debu

  1. Aku slalu tertampar tampar berkali kali saat baca tulisan tulisanmu mas. Aku gak kenal njenengan polow njenengan di fb & twirer pun baru2 saja. Suwun tulisanmu sukses menampar egoku

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s